(Vibiznews - Business) - Kondisi fundamental ekonomi global pada hari ini (31/10) cukup dikejutkan oleh adanya laporan bahwa Jepang akan kembali meneruskan upaya pembelian obligasi yang diluncurkan oleh Eropa. Melanjutkan kebijakan tahun lalu dimana Jepang juga sempat membeli surat hutang yang diluncurkan oleh Yunani, kini pemerintah Jepang telah sepakat untuk membeli surat hutang yang akan dikeluarkan oleh Komite Eropa melalui European Financial Stability Facility (EFSF). Jepang merupakan salah satu dari beberapa investor yang cukup
Prediksi tersebut cukup memberikan "angin segar" dimana Eropa saat ini membutuhkan suntikan dana segar setelah di pekan lalu pertemuan Uni Eropa telah menyepakati akan merilis dana bantuan sebesar 1,4 triliun dollar guna mengurangi tekanan krisis yang terjadi di beberapa negara Eropa. Pihak Komite Eropa sendiri bahkan menanggapi positif rencana pemerintah Jepang dan menyebutkan bahwa pembelian surat hutang yang dilakukan oleh Jepang tersebut merupakan sebuah bentuk "solidaritas" terhadap kawasan yang masing-masing memiliki faktor bisnis yang menguntungkan.
Hasil dari Perundingan G20
Banyak kalangan menilai bahwa kebijakan Jepang tersebut merupakan hasil dari kesepakatan pada pertemuan G20 yang dilakukan pada awal bulan ini. Jepang yang merupakan anggota G20 dinilai sebagai "langganan" pembeli surat hutang Eropa dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini merupakan sebuah sinyalemen strategis bagi Jepang yang merupakan salah satu eksportir produk-produk barang jadi terutama elektronik dan otomotif ke Eropa.
Ikatan bisnis antara kedua belah pihak menjadi alasan yang harus terus dibina. Maka dari itu, dengan melakukan pembelian surat hutang disaat Eropa sedang terguncang merupakan momentum yang tepat untuk menguatkan hubungan antara kedua belah pihak. Dalam pembelian surat hutang EFSF yang dilakukan oleh Jepang nantinya akan di bagi menjadi dua term yaitu pada bulan Januari dan Juli tahun depan.
Berbeda dengan tujuan pembelian surat hutan di tahun lalu, kini Jepang lebih memfokuskan kepada penyelamatan ekonomi Italia dan Spanyol. Untuk Italia sendiri, momentum yang dilakukan oleh Jepang seiring dengan rencana penjualan surat hutan yang dilakukan oleh pemerintah Itali sebesar 3,08 miliar euro yang merupakan penjualan surat hutang terbesar Italia sejak November 2000.
Namun disaat yang bersamaan, kebijakan pembelian surat hutang yang dilakukan oleh Jepang memiliki resiko bagi perekonomian Jepang yang masih cukup tertekan paska musibah gempa dan tsunami yang terjadi pada bulan Maret lalu. Dan penguatan yen terhadap Dollar AS menjadi sebuah ancama tersendiri bagi sektor eksportir Jepang.
Lihat Analisis Vibiz Research