Sunday, October 23, 2011

George Soros dan Gerakan Occupy Wall Street

Jumat, 21 Oktober 2011 19:36 WIB

(Vibiznews – Business) Mau tahu siapa dalang di balik gerakan Occupy Wall Street beberapa waktu lalu? Santer beredar bahwa George Soroslah pelakunya. Peristiwa ini bermula dari aksi dari segelintir orang di pertengah bulan September lalu, selanjutnya gerakan Occupy Wall Street telah mulai menggurita dan menyebar ke kota-kota lain di AS, bahkan sampai ke seluruh dunia. Aksi yang menyuarakan protes terhadap keserakahan perusahaan-perusahaan besar dan kesenjangan sosial yang makin melebar ini bahkan juga dapat kita temui di Jakarta tercinta.

Pencetus aksi protes ini adalah seorang aktivis asal Kanada Adbusters. Slogan dari para peserta aksi ini adalah “Kami adalah yang 99% (We are the 99%)” mengacu kepada perbedaan antara kekayaan 1% orang paling kaya di AS dengan sisanya 99% dari masyarakat AS. Meskipun para peserta aksi protes tersebut meyuarakan keluhan yang berbeda-beda dan kepentingan yang belainan, akan tetapi seluruhnya menyuarakan rasa frustasi mengenai kondisi ekonomi dan tingkat pengangguran yang tinggi yang terjadi di AS tersebut.

Spekulasi tentang keterlibatan Soros dalam demo memrotes Wall Street dilontarkan oleh host radio, Rush Limbaugh pada pekan lalu.

"Uang George Soros di balik ini," ujar Limbaugh saat membawakan acara di radionya, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (14/10/2011).

Atas tudingan tersebut, juru bicara Soros, Michael Vachon membantahnya. Soros tidak terlibat secara langsung atau tidak langsung pada aksi protes tersebut.

"Pernyataan yang tegas terhadap hal yang berkebalikan itu adalah sebuah upaya yang dilakukan oleh orang-orang yang melawan para pendemo guna menimbulkan perdebatan pada kebenaran pergerakan itu," jelasnya.

Soros diketahui mendonasikan paling tidak US$ 3,5 juta pada organisasi Tides Center dalam beberapa tahun terakhir, dengan ciri-ciri dana tersebut untuk tujuan tertentu. Tides juga diketahui telah memberikah hibah kepada Adbusters, sebuah kelompok anti kapitalis di Kanada yang kampanyenya memicu demonstrasi awal pada bulan lalu.

Vachon mengatakan Open Society secara spesifik menyebutkan dana itu dapat digunakan untuk apa. Ia mengatakan, tidak ada tujuan umum dari penggunaan dana itu untuk keleluasaan Tides, misalnya untuk hibah Adbusters.

Menurut dokumen keterbukaan dari IRS sejak 2007-2009, berdasarkan data yang ada, Open Society telah memberikan hibah ke US$ 3,5 juta ke Tides, sebuah kelompok yang berbasis di San Francisco. Tides diketahui juga berpartner dengan Ford Foundation dan Gates Foundation.

Dokumen IRS dan laporan dari Tides itu juga menunjukkan Tides memberikan hibah ke Adbusters hibah sebesar US$ 185.000 pada periode 2001-2010, termasuk US$ 26.000 antara 2007-2009.

Adbuster yang berbasis di Vancouver mempublikasikan majalah dengan sirkulasi sebanyak 120.000 dan diketahui atas iklannya yang popular. Mereka mengatakan ingin mengubah cara korporasi menggunakan kekuatannya dan tujuannya adalah untuk meruntuhkan struktur kekuatan yang ada.

Pendiri Adbuster, Kalle Lasn mengatakan, 95% pendanaan grup adalah dari para subscriber yang membayar majalah tersebut.

"Ide George Soros cukup baik, kebanyakannya. Saya berharap dia memberikan sejumlah uang ke Adbusters, karena kami membutuhkannya. Tapi dia tidak pernah memberikan kami 1 penny," ujarnya.

Soros memang termasuk salah satu dari pihak-pihak yang menyatakan simpatinya kepada para pendemo Wal Street yang frustasi dengan tingginya pengangguran.

"Saya dapat mengerti sentimen mereka," ujar Soros mengomentari para pendemo Wall Street tersebut.

Soros yang pernah dicap sebagai biang keladi krisis finansial Asia, yang kini berumur 81 tahun berada di peringkat ke-7 orang terkaya di dunia dalam daftar Forbes dengan kekayaan diperkirakan mencapai US$ 22 miliar. Namun setelah dituding sebagai biang keladi di balik krisis, Soros 'membayarnya' dengan donasi seluruh hartanya. Setengah diberikan ketika dia mendapatkannya, setengah lagi ketika dia meninggal.