Dalam 2 tahun terakhir atau paska terjadinya krisis finansial di Amerika Serikat, industri otomotif AS terus menggeliat dan memberikan perkembangan yang semakin positif. General Motors, produsen otomotif terbesar di AS dan salah satu yang terbesar di dunia telah mengalami kemajuan yang pesat setelah tahun 2008 sempat terancam bangkrut dan menerima bantuan bail out dari pemerintah. Tahun lalu, perusahaan yang memiliki umur lebih dari 1 abad ini tercatat mengalami kenaikan profit sebesar 23 miliar dollar. Masa pemulihan finansial dan bisnis rupanya telah melalui tahap positif. Bulan Desember tahun lalu bahkan perusahaan ini dapat memproduksi mobil sebanyak 224 ribu unit dalam setahun atau mengalami kenaikan tertinggi sebesar 16% setelah sempat mengalami penurunan 21% di awal tahun 2009 lalu. Sedangkan pendapatan bersih mengalami
Menurut Forbes, kenaikan jumlah produksi mobil diatas di tahun lalu juga merupakan kenaikan produksi di sektor otomotif. Setelah GM, Ford juga mengalami kenaikan 19%, Chrysler 16% dan Toyota 5,5% pada industri otomotif di AS. Banyak kalangan menilai bahwa melonjaknya produksi mobil GM tersebut disebabkan oleh adanya peran signifikan dari Daniel Akerson, sang CEO ang dinilai memiliki andil dalam penyelamatan finansial GM. Ia terpilih pada tahun 2009 berdasarkan rekomendasi dari Departemen Keuangan AS yang memiliki proporsi jumloah saham sebesar 61%. Sikap ulet dan penuh inovasi yang diusungnya membuat GM kembali menjadi penguasa di sektor otomotif AS.
Prospek Positif Tahun Ini
Untuk tahun 2011 ini, Daniel Akerson memprediksi bahwa penjualan mobil hasil produksi GM akan mengalami penjualan hingga mencapai 13 - 13,5 juta unit. Prediksi tersebut dilandasi oleh adanya sentimen mengenai prospek perekonomian AS yang mulai stabil meski disisi lain masih memiliki kekurangan terutama pada sektor tenaga kerja yang masih menunjukan tingginya angka pengangguran. Kondisi tersebut dinilai masih belum dapat mengganggu prospek sektor otomotif di AS. Selain itu, dari segi permintaan, kondisi negatifnya perekonomian beberapa negara Eropa akan menjadi sebuah sinyalemen yang negatif bagi ekspor produk otomotif GM.
Bukan hanya Eropa, China pun dikhawatirkan akan mengalami permintaan produk otomotifnya pada tahun ini menyusul melemahnya pertumbuhan ekonomi negara tersebut pada kuartal ketiga sebesar 0,4% menjadi 9,1%. China merupakan konsumen produk otomotif GM terbesar kedua setelah AS dengan market share sebesar 12,05% atau sebanyak 1,9 juta unit mobil. Meski begitu, GM diperkirakan akan masih memanfaatkan pasar Asia sebagai tulang punggung pemasaran. Apalagi sesuai dengan permintaannya, pasar Asia lebih menggiurkan untuk menjual produk-produk GM dengan mobil-mobil berjenis "city car" seperti produk Chevrolet Matiz dan Chevrolet Aveo.
Disisi lain, prospek positif juga datang dari pengaruh eksternal lainnya seperti cenderung stabilnya pergerakan harga minyak mentah yang berimbas kepada harga bahan bakar minyak. Berbeda dengan tahun lalu, pada tahun ini prospek penjualan mobil global akan sangat tertolong oleh stabilnya harga minyak mentah yang berkisar antara level 82 - 87 dollar per barel. Kondisi tersebut berbeda dengan tahun lalu dimana harga minyak berkisar antara level 88 - 94 dollar per barel.
Berdasarkan penjelasan diatas, investor cukup optimis bahwa laporan keuangan GM untuk kuartal ketiga lalu diperkirakan akan mengalami kenaikan profit. Mengacu pada naiknya data industri AS dalam dua pekan terakhir, investor memprediksi bahwa penjualan otomotif untuk kuartal ketiga akan semakin meningkat. Mengacu kepada "anjlok"nya penjualan otomotif Jepang paska musibah bencana gema dan tsunami yang terjadi bulan Maret lalu, para produsen otomotif AS akan sangat memperoleh keuntungan bukan hanya pada penjualan otomotif lokal tapi juga global.
Lihat Analisis Vibiz Research