Di tengah kondisi krisis ekonomi global yang mengguncang dunia, tampaknya akan sangat naif apabila kita berharap bahwa Indonesia akan sepenuhnya imun terhadap kondisi krisis tersebut (18/10). Akan tetapi kita boleh berbangga hati sedikit (meskipun tetap waspada tentunya) bahwa saat ini kondisi ekonomi dalam negeri masih cenderung solid.
Dana Moneter Internasional atau "International Monetary Fund" (IMF) menyatakan bahwa Indonesia sekarang ini merupakan salah satu negara dengan kondisi perekonomian terkuat di antara negara-negara di ASEAN.
Pada 2011, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia diperkirakan akan mencapai 6,4 persen. Ini adalah yang tertinggi dibanding dengan negara-negara ASEAN lain seperti Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.
Pada 2011, PDB Malaysia adalah 5,2 persen, Filipina: 4,7 persen, Singapura: 5,3 persen, Thailand: 3,5 persen, dan Vietnam: 5,8 persen.
Secara keseluruhan, perkiraan pertumbuhan GDP di Asia pada 2012 menurun sebesar 0,2 persen dari tahun sebelumnya 7,9 persen menjadi 7,7 persen. Penurunan ini disebabkan karena mengikuti pertumbuhan ekonomi global yang melambat.
Menurut pengamatan IMF, Indonesia bisa menaikkan persentase GDPnya dengan cara meningkatkan iklim investasi antara lain dengan cara meningkatkan belanja untuk memperbaiki infrastruktur.
Inflasi dalam Negeri Mulai Melunak
Di samping pertumbuhan ekonomi yang masih solid, sinyal sehatnya ekonomi dalam negeri terlihat dari tingkat inflasi yang terkendali. Direktur Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI Perry Warjiyo memperkirakan laju inflasi sampai akhir tahun ini mencapai 4,7 persen atau di bawah perkiraan sebelumnya 5 persen.
Menurut Perry Warjiyo, perkiraan inflasi yang rendah didasarkan perkiraan inflasi Oktober-November yang masih bisa dikontrol, serta faktor musiman yang tidak terlalu besar pengaruhnya.
Sementara untuk inflasi 2012, diperkirakan lebih rendah dibanding tahun ini karena faktor turunnya pertumbuhan ekonomi nasional, namun faktor rencana kenaikan TDL membuat inflasi 2012 akan lebih tinggi dibanding 2011.
Faktor perkiraan inflasi yang rendah di bawah lima persen pada tahun ini dan tahun depan ini yang mendasari BI menurunkan BI rate dari 6,75 persen menjadi 6,5 persen pada Selasa minggu lalu.
Kewaspadaan Tidak Boleh Dilonggarkan
Meskipun sinyal bahwa ekonomi dalam negeri cukup sehat, akan tetapi kondisi ekonomi global yang sedang terpukul tetap mengharuskan Indonesia waspada dan siap sedia menghadapi bahaya. Pemerintah terutama harus mewaspadai kondisi obligasi berdenominasi dolar AS.
Menkeu Agus Martowardoyo menegaskan bahwa pemerintah perlu mewaspadai kondisi obligasi berdenominasi dolar AS karena bisa mengalami koreksi terkait memburuknya sistem perbankan di Eropa dan memberikan tekanan ke wilayah Asia Pasifik termasuk Indonesia.
Situasi global diprediksi belum akan membaik karena pelambatan pertumbuhan di Amerika Serikat (AS), ancaman pemanasan ekonomi (overheating) di negara berkembang serta krisis di Timur Tengah makin buruk, bisa mempengaruhi asumsi harga dan lifting minyak.
Kristanto Nugroho selaku komisaris Bursa Berjangka Jakarta menilai bahwa secara financial beberapa kali Indonesia diloloskan dari krisis global karena faktor tingginya self sufficient perekonomian yang didukung oleh kekayaan sumber daya alam dan jumlah penduduk, di sisi yang lain juga belum terlalu terlibat pada transaksi financial secara global yang pada krisis kali ini seperti domino effect dari keterkaitan transaksi financial yang cukup canggih sehingga sakitnya menular sangat cepat dan kronis bagi yang terlibat. Namun potensi masalah yang perlu diwaspadai adalah pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah masuk fase kekurangan dukungan infrastruktur, hal ini memerlukan belanja modal dan berdampak pada kenaikan inflasi.