Wednesday, October 26, 2011

William Pesek : Tahun 2012 Akan Menjadi Tahun yang Berat Bagi Ekonomi China

Rabu, 26 Oktober 2011 15:06 WIB

(Vibiznews - Business) - Salah satu ekonomi terkemuka, William Pesek, pada hari ini kembali mengeluarkan pendapat dan prediksinya mengenai proyeksi ekonomi China sebagai salah satu negara industri paling kuat saat ini. Pesek dikenal sebagai salah satu ekonom dunia yang sering membahas mengenai perkembangan ekonomi Asia termasuk negara-negara industri yang berada dikawasan tersebut, tak terkecuali China. Menanggapi persoalan ancaman krisis yang terjadi pada Eropa, Pesek justru mengkaitkan imbas dari kondisi tersebut bagi perekonomian China baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Menurutnya, prospek ekonomi Eropa akan sangat tergantung dari kebijakan yang dibuat oleh pemegang regulasi di sektor finansial Eropa menyusul telah meluasnya imbas krisis finansial yang sebelumnya hanya melanda 2-3 negara termasuk Yunani. Dalam jangka panjang, perekonomian Eropa dinilai masih akan melamban. Meniliki keberadaan China, sebagai negara eksportir, kondisi tersebut akan tidak menguntungkan bagi China. Perlambatan ekonomi Eropa disinyalir akan masih terjadi hingga tahun yang dimana akan memberikan beban bagi sektor eksportir China.

Cina Terancam Krisis di Tahun 2012

Dengan adanya sinyalemen diatas, Pesek memprediksi bahwa tahun depan akan menjadi tahun yang sulit bagi perekonomian China. Ancaman overheating diperkirakan akan berlanjut dan diperlihatkan oleh penurunan pertumbuhan ekonomi sampai dengan tahun depan. Pesek bahkan memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi China akan berada pada kisaran 8 - 9% pada tahun depan. Lesunya sektor eksportir dan juga jenuhnya bisnis di sektor properti akan menjadi penyebab utama bagi perekonomian China. Prediksi yang menyebutkan bahwa China akan melampaui kapasitas perekonomian AS diperkirakan akan terwujud pada 10-20 tahun mendatang menurut Pesek.

Pesek juga beranggapan bahwa kenaikan inflasi akan menjadi sebuah penghambat bagi perkembangan ekonomi China. Kebijakan penambahan uang beredar yang diberlakukan oleh Fed secara tidak langsung juga menjadi penyebab kenaikan inflasi. Semakin beredarnya jumlah dollar di perdagangan menimbulkan sebuah surplus permintaan bagi mata uang yuan sehingga menjadikan yuan mengalami apresiasi. Peran kebijakan Bank Sentral China masih akan dibutuhkan terutama dalam meredam tingkat inflasi dengan salah satunya melakukan peningkat suku bunga acuan yang disisi lain akan berdampak negatif bagi pertumbuhan ekonomi dan juga produktifitas di sektor ril.

Namun dalam jangka pendek atau lebih tepatnya sampai dengan akhir tahun ini, Pesek memprediksi bahwa perekonomian China masih cenderung tidak terlalu "jatuh". Turunnya performa pertumbuhan ekonomi masih disebabkan oleh adanya sebuah kontraksi yang disebabkan oleh kondisi eksternal. Sedangkan dalam kondisi internal, sektor industri China masih akan menunjukan kondisi yang positif sampai dengan akhir tahun.

Lihat Analisis Vibiz Research