Thursday, September 29, 2011

Amazon Bakar Kancah Perang Tablet Dengan Kindle Fire

Kamis, 29 September 2011 14:00 WIB

Setelah perang tablet bergemuruh dengan gugatan Apple dan Microsoft kepada Samsung yang menyebabkan tertundanya peluncuran produk Samsung Galaxy terbaru di beberapa negara, pada hari Rabu kemarin perusahaan Amazon terjun langsung ke dalam kancah perang tablet ini mengarahkan artileri penuh ke produk iPad milik Apple yang saat ini masih merupakan kekuatan dominan di pasar tablet (29/09).

Amazon memperkenalkan Kindle Fire yang merupakan versi kecil dari iPad, tentunya juga dengan harga “mini”. Meskipun berharga murah, akan tetapi kemampuan dan aplikasi gadget ini tidak perlu diragukan lagi. Bahkan menurut Tim Stevens, editor-in-chief Engadget, sebuah situs review gadget, Kindle Fire merupakan tablet berharga 200 dolar (Amazon mematok Kindle Fire di harga 199 dolar) yang terbaik di pasaran.

CEO Amazon.com Inc David Bezos yang memperkenalkan Kindle Fire juga memperkenalkan varian Kindle e-reader yang bisa dipilih, tentunya dengan harga lebih murah. Model basic dengan harga 79 dolar, versi basic dengan layar sentuh seharga 99 dolar dan versi layar sentuh dengan ketersediaan aplikasi wireless 3G dengan harga 149 dolar. Diharapkan dengan kehadiran Kindle e-reader ini akan dapat mengukuhkan posisi Amazon.com sebagai penjual e-book terbesar, yang mulai terancam dengan perusahaan penjual e-book lain seperti Barnes & Noble.

Amazon mengharapkan dapat menguasai ceruk pasar di mana tablet mereka didisain untuk secara langsung terhubung dengan penyimpanan konten media perusahaan tersebut. Bezos mengklain bahwa produknya ini berbeda dengan produk tablet lain yang hanya menjual produk, tapi tidak menjual jasa. Amazon menjual lebih dari 1 juta e-book, 100,000 film dan acara televisi dan 17 juta lagu. Amazon sangat yakin bahwa produk ini akan dapat sukses karena memiliki keterkaitan dengan ketersediaan hubungan dengan situs belanja nomer satu dunia itu.

Siapa yang Terancam oleh Kindle Fire?

Banyak pihak menilai bahwa keberadaan Kindle Fire justru akan menjadi ancaman yang lebih serius terhadap pasar tablet keluaran RIM, Motorola dan Samsung, dibandingkan sebagai ancaman bagi iPad milik Apple.

Menurut para analis untuk dapat menggantikan fungsi iPad layar Kindle Fire yang hanya sebesar 7 inchi kurang memadai untuk aplikasi game dan video. Meski demikian tetap saja Kindle Fire memiliki keuntungan dibandingkan iPad. Produk ini akan dipilih oleh konsumen yang menjadi gadget yang berharga terjangkau dengan merek terpercaya.

Akan tetapi untuk BlackBerry Playbook, Samsung Galaxy dan Motorola Xoom produk ini merupakan ancaman serius. Pangsa pasar tablet terbesar saat ini masih dikuasai oleh iPad. Kuartal lalu iPad berhasil menjual 9.25 juta iPad sementara RIM hanya mampu menjual 200,000 PlayBook. Motorola lebih baik dari RIM, mampu menjual setengah juta Xoom, sementara Samsung juga cukup baik.

Kindle Fire juga menjadi ancaman serius bagi Google. Amazon Kindle Fire menggunakan system operasi Android milik Google akan tetapi disesuaikan dengan kebutuhannya sendiri. Sampai saat ini Google telah memastikan control terhadap ekosistem Android melalui aplikasi miliknya berupa Google Map, mail dan Google’s Android app store. Apa yang dilakukan Amazon adalah menggunakan sumber daya miliknya untuk menciptakan versi Android miliknya yang tidak tergantung dengan support dari Google.

Hal ini berbahaya bagi google karena tampaknya pada akhir tahun ini Amazon akan memiliki tablet Android paling popular di pasaran. Analis memperkirakan bahwa pada kuartal keempat tahun ini Kindle Fire akan mampu mencapai angka penjualan sebesar 3-5 juta item. Dengan demikian developer aplikasi yang menargetkan pengguna Android akan mulai menyesuaikan aplikasi dengan tablet Kindle Fire, bukan Google. Hal ini akan menjadi masalah karena premis bisnis Google di balik produk Android yang merupakan open source ini adalah dengan memberikan OS secara gratis akan tetapi membuat pengguna ‘kecanduan’ dengan jasa-jasa dari Google sehingga akan banyak membaca iklan Google. Keberadaan Kindle Fire berpotensi besar untuk menghancurkan premis tersebut.

Roubini : Spekulasi Resesi Global Makin Kental

Rabu, 28 September 2011 17:40 WIB

Rabu, 28 September 2011 17:40 WIB

Disaat negatifnya kondisi fundamental global saat ini, salah satu ekonomi terkemuka dunia, Nouriel Roubini yang juga merupakan CEO dari Roubini Global Economics LLC, kembali mengeluarkan pendapatnya terhadap kondisi terkini dan prospek ekonomi Eropa yang kini menjadi fokus utama banyak pihak. Sekilas mengenai Roubini, ekonom ini dikenal memiliki analisa yang jitu dan merupakan salah satu ekonom yang sempat memprediksi terjadinya krisis ekonomi global di tahun 2008. Kini, analisanya kembali diuji seiring dengan peliknya ancaman krisis ekonomi yang akan melanda Eropa.

Ia menyebutkan, negatifnya kondisi perekonomian Eropa yang terjadi pada saat ini bisa menjadi sebuah indikasi terhadap munculnya spekulasi akan datangnya krisis ekonomi global jilid II paska tahun 2008 yang lalu. Ancaman resesi global akan didahului oleh perekonomian Eropa dimana fundamental ekonomi yang meliputi tingkat hutang luar negeri dan sektor kredit yang berkembang saat ini sudah cukup mengkhawatir. Roubini beragumen bahwa saat ini merupakan masa-masa yang sulit bagi para pemimpin Eropa. Spekulasi dikeluarkannya keanggotaan Yunani dari keanggotaan Uni Eropa semakin kencang menyusul sudah terlalu dalamnya jumlah hutang luar negeri dan negatifnya prospek sektor perbankan di negara tersebut.

Sektor Konsumsi Eropa Akan Stagnan

Bagi ekonomi kawasan, pelemahan ekonomi Eropa yang terjadi saat ini dapat memberikan efek lain seperti pada sektor konsumsi. Roubini beranggapan bahwa sektor konsumsi Eropa akan terkena dampak langsung. Sektor konsumsi akan bergerak stagnan. Pergerakan negatif masih akan terjadi pada negara-negara yang sedang terancam krisis di sektor finansial seperti Yunani, Portugal, Spanyol dan Italia. Namun bagi negara-negara yang masih kuat secara fundamental ekonomi seperti Jerman dan Perancis, justru belum masuk kepada kondisi yang mengkhawatir. Bagi kedua negara tersebut, dampak yang secara langsung diperoleh akan didapat dari berkurangnya jumlah pasokan barang-barang konsumsi yang dikirim dari negara-negara yang sedang terancam krisis. Berkurangnya pasokan dan juga turunnya daya beli masyarakat akan mengakibat sektor konsumsi bergerak stagnan.

Guna mencegah semakin beresikonya perekonomian di kawasan Eropa. Maka para pemimpin Eropa harus segera bersatu dan segera mengeluarkan kebijakan yang solutif. Kebijakan bail out dan penyelamatan ekonomi Yunani yang saat ini diusung oleh Kanselir Jerman, Angela Merkel dinilai harus segera direalisasikan. Kekompakkan para pemimpin Eropa saat inbi sedang diuji apakah sanggup mengatasi krisis yang sedang melanda beberapa negara anggotanya atau tidak.

Ia menambahkan, dominannya Angela Merkel dalam mengupayakan sebuah baik out bagi perekonomian Eropa harus segera didukung oleh pihak lain. Selain itu dipihak lain dalam hal ini pemerintah Yunani diharapkan dapak berupaya lebih keras terutama dalam menurunkan nominal defisit anggaran dan juga hutang luar negeri.

Wednesday, September 28, 2011

Emas Tidak Imun Terhadap Krisis

Selasa, 27 September 2011 14:40 WIB

Harga emas telah mengalami penurunan tajam sejak mencetak rekor tertinggi pada tanggal 6 September lalu (27/09). Sejak saat itu harga logam mulia ini telah mencatatkan penurunan sebesar 20% yang berkulminasi pada hari Senin kemarin, di mana harga emas mengalami penurunan hingga mencapai level terendah sejak tanggal 8 Juli lalu.

Emas sering disebut-sebut sebagai asset safe haven, asset yang dicari dan diburu karena memiliki sifat melindungi nilai di saat kondisi ekonomi global sedang bermasalah. Akan tetapi sejarah menunjukkan bahwa asset yang satu ini juga tidak sepenuhnya imun dari gejolak ekonomi.

Pada episode krisis di tahun 2008 lalu harga emas sempat terbanting tajam. Para investor memperlakukan emas layaknya aset-aset lain yang menyimpan risiko tinggi saat Lehman Brothers mengalami kebangkrutan. Tercatat di bulan Oktober 2008 harga emas mengalami penurunan tajam sebesar 27%.

Prospek Penurunan Masih Terjadi dalam Jangka Pendek

Dalam jangka pendek harga emas masih berpotensi untuk mengalami koreksi lanjutan karena pelaku pasar mulai meragukan status safe haven emas setelah mengalami penurunan tajam. Harga emas yang telah mencetak rekor tertinggi di atas 1920 dolar pada awal September lalu juga mendorong maraknya aksi ambil untung oleh para investor. Terutama sekali aksi jual emas akan dilakukan oleh para investor guna menutupi kerugian yang terjadi di bursa saham yang terbanting tajam akhir-akhir ini.

Untuk saat ini investor lebih memilih untuk memegang harta dalam bentuk kas, yang dinilai paling aman. Kondisi krisis saat ini biasanya memberikan keuntungan bagi harga emas sehingga penurunan tajam harga emas yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa pasar sedang berada dalam tekanan yang luar biasa besar. Di samping itu kondisi penurunan harga besar-besaran ini juga menunjukkan bahwa kondisi pasar emas juga sudah mengalami jenuh beli yang berkepanjangan.

Kondisi jenuh beli di pasar emas ditandai dengan pergerakan volatil yang terjadi menyusul melejitnya harga emas ke rekor tertingginya awal bulan lalu. Harga emas saat itu mengalami peningkatan tajam sebesar 28% hanya dalam jangka waktu dua bulan saja. Volatilitas tinggi pergerakan harga emas tersebut menandakan bahwa emas bukan lagi merupakan aset yang tidak berisiko.

Prospek Jangka Panjang Emas Masih Menarik

Akan tetapi dalam jangka panjang ekspektasi kenaikan harga emas juga masih terbuka. Aset lain masih dianggap “beracun” sehingga pilihan akan kembali jatuh kepada aset yang relatif aman, yaitu emas. Sementara itu tingkat suku bunga yang rendah juga turut memberikan sentiment kenaikan yang cukup sehat kepada harga komoditas logam mulia ini.

Di samping investasi dalam bentuk fisik, reksadana berbasis emas juga dinilai masih menarik. Kepemilikan investor dalam reksadana berbasis emas tampak relatif stabil meskipun harga emas mengalami penurunan besar-besaran.

Prospek jangka panjang harga emas juga erat kaitannya dengan ekspektasi inflasi. Inflasi, terutama di Negara berkembang kawasan Asia, masih menjadi salah satu ancaman dalam ekonomi. Kondisi ini mengakibatkan dibutuhkan aset yang memiliki lindung nilai terhadap inflasi. Investor masih percaya bahwa emas memnuhi criteria tersebut.

Di samping itu sejarah di tahun 2008 juga menunjukkan bahwa setelah penurunan tajam harga emas di bulan Oktober 2008, rebound yang terjadi pada harga komoditas tersebut relatif singkat yang juga tajam.

Monday, September 26, 2011

Pekan Sibuk Bagi Angela Merkel, Tokoh Sentral Bagi Bail Out Yunani

Senin, 26 September 2011 16:10 WIB

Dalam sepekan terakhir, kondisi perekonomian Eropa kian mengalami situasi yang buruk. Berlanjutnya ancaman krisis di kawasan tersebut seiring dengan kepanikan yang terjadi pada para pemimpin Uni Eropa yang terlihat cukup mengalami beban yang berat pada saat ini. Tak terkecuali pada duet pemrakarsa kebijakan bail out ekonomi Eropa, Presiden Perancis Nicholas Sarkozy dan Kanselir Jerman, Angela Merkel. Di awal pekan ini, atau paska pertemuan anggota Uni Eropa, Angela Merkel menyatakan pendapatnya mengenai prospek dan apa yang harus dilakukan guna menyelamatkan Eropa ke dalam spekulasi krisis.

Beberapa hal menjadi argumen Merkel dalam menyatakan solusinya terhadap pemulihan Eropa saat ini. Diantaranya ialah diperlukannya persatuan dari para pemimpin Eropa untuk bergerak bersama dan memikirkan solusi yang tepat bagi kawasan ekonomi Eropa. Ia menyatakan bahwa proses stabilisasi sektor finansial Eropa bukan merupakan tanggung jawab beberapa negara saja. Dengan melemahnya perekonomian salah satu negara di Eropa diperkirakan akan mendatangkan dampak bagi kawasan.

Ia memprediksi, ancaman krisis akan masih terus berlangsung sampai dengan tahun mendatang. Semakin cepat munculnya sebuah solusi yang efektif, akan semakin cepat pula perekonomian Eropa akan menjadi stabil. Konsitensi dalam menjalankan kebijakan European Financial Stability Facility yang disahkan UE di bulan Juli lalu harus terus dijalankan. Kebijakan tersebut terkait dengan adanya sebuah perlindungan bagi sektor perbankan. Menurut Merkel, sektor perbankan merupakan sektor yang paling riskan terkena imbas krisis dari beberapa negara di Eropa.

Yunani Akan Tetap di Uni Eropa

Disaat yang bersamaan, ia pun menjawab spekulasi bahwa Yunani akan dikeluarkan atau akan keluar dari keanggotaan Uni Eropa menyusul dalamnya krisis yang terjadi negara tersebut dan tingginya besaran hutang luar negeri yang dimiliki. Ia mengatakan, meski krisis yang terjadi di Yunani belum nampak, namun posisi Yunani masih belum dalam dikatakan patut untuk keluar dari keanggotaan Uni Eropa.

Ia mengkhawatirkan, jika Yunani keluar dari keanggotan Uni Eropa akan menimbulkan preseden buruk bagi kawasan tersebut dan citra UE sendiri dalam mengatasi permasalahan yang terjadi di anggotanya. Selain itu, dengan mengeluarkan diri dari keanggotaan UE bukanlah merupakan solusi yang tepat dan beresiko akan diikuti oleh negara-negara lain yang sedang mengalami nasib yang serupa dengan Yunani.

Merkel menunjukan bahwa dirinya tidak mau berspekulasi terhadap apa yang terjadi saat ini. Ia tetap yakin bahwa peluang pemulihan akan sedikit demi sedikit akan terealisasi. Paket bantuan ekonomi bagi Yunani yang kini sedang tersendat mengingat belum adanya kesepakatan bersama pastinya akan menjadi penyemangat bagi kanselir Jerman tersebut.

Pekan ini akan menjadi pekan yang sibuk bagi Angela Merkel. Besok dirinya akan kembali melakukan pembicaraan empat pihak antara IMF, ECB dan juga Komisi Eropa guna membahas mengenai kebijakan reduksi defisit anggaran Yunani. Dan selanjutnya pada keesokan harinya dirinya akan menemui PM Yunani, George Papandreou di Berlin terkait dengan rencana kebijakan bailout.