Wednesday, September 28, 2011

Emas Tidak Imun Terhadap Krisis

Selasa, 27 September 2011 14:40 WIB

Harga emas telah mengalami penurunan tajam sejak mencetak rekor tertinggi pada tanggal 6 September lalu (27/09). Sejak saat itu harga logam mulia ini telah mencatatkan penurunan sebesar 20% yang berkulminasi pada hari Senin kemarin, di mana harga emas mengalami penurunan hingga mencapai level terendah sejak tanggal 8 Juli lalu.

Emas sering disebut-sebut sebagai asset safe haven, asset yang dicari dan diburu karena memiliki sifat melindungi nilai di saat kondisi ekonomi global sedang bermasalah. Akan tetapi sejarah menunjukkan bahwa asset yang satu ini juga tidak sepenuhnya imun dari gejolak ekonomi.

Pada episode krisis di tahun 2008 lalu harga emas sempat terbanting tajam. Para investor memperlakukan emas layaknya aset-aset lain yang menyimpan risiko tinggi saat Lehman Brothers mengalami kebangkrutan. Tercatat di bulan Oktober 2008 harga emas mengalami penurunan tajam sebesar 27%.

Prospek Penurunan Masih Terjadi dalam Jangka Pendek

Dalam jangka pendek harga emas masih berpotensi untuk mengalami koreksi lanjutan karena pelaku pasar mulai meragukan status safe haven emas setelah mengalami penurunan tajam. Harga emas yang telah mencetak rekor tertinggi di atas 1920 dolar pada awal September lalu juga mendorong maraknya aksi ambil untung oleh para investor. Terutama sekali aksi jual emas akan dilakukan oleh para investor guna menutupi kerugian yang terjadi di bursa saham yang terbanting tajam akhir-akhir ini.

Untuk saat ini investor lebih memilih untuk memegang harta dalam bentuk kas, yang dinilai paling aman. Kondisi krisis saat ini biasanya memberikan keuntungan bagi harga emas sehingga penurunan tajam harga emas yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa pasar sedang berada dalam tekanan yang luar biasa besar. Di samping itu kondisi penurunan harga besar-besaran ini juga menunjukkan bahwa kondisi pasar emas juga sudah mengalami jenuh beli yang berkepanjangan.

Kondisi jenuh beli di pasar emas ditandai dengan pergerakan volatil yang terjadi menyusul melejitnya harga emas ke rekor tertingginya awal bulan lalu. Harga emas saat itu mengalami peningkatan tajam sebesar 28% hanya dalam jangka waktu dua bulan saja. Volatilitas tinggi pergerakan harga emas tersebut menandakan bahwa emas bukan lagi merupakan aset yang tidak berisiko.

Prospek Jangka Panjang Emas Masih Menarik

Akan tetapi dalam jangka panjang ekspektasi kenaikan harga emas juga masih terbuka. Aset lain masih dianggap “beracun” sehingga pilihan akan kembali jatuh kepada aset yang relatif aman, yaitu emas. Sementara itu tingkat suku bunga yang rendah juga turut memberikan sentiment kenaikan yang cukup sehat kepada harga komoditas logam mulia ini.

Di samping investasi dalam bentuk fisik, reksadana berbasis emas juga dinilai masih menarik. Kepemilikan investor dalam reksadana berbasis emas tampak relatif stabil meskipun harga emas mengalami penurunan besar-besaran.

Prospek jangka panjang harga emas juga erat kaitannya dengan ekspektasi inflasi. Inflasi, terutama di Negara berkembang kawasan Asia, masih menjadi salah satu ancaman dalam ekonomi. Kondisi ini mengakibatkan dibutuhkan aset yang memiliki lindung nilai terhadap inflasi. Investor masih percaya bahwa emas memnuhi criteria tersebut.

Di samping itu sejarah di tahun 2008 juga menunjukkan bahwa setelah penurunan tajam harga emas di bulan Oktober 2008, rebound yang terjadi pada harga komoditas tersebut relatif singkat yang juga tajam.