Sunday, December 18, 2011

Ten Happiest Companies in USA for 2012

Minggu, 18 Desember 2011 00:00 WIB
(Vibiznews – Business Review) – Sebuah situs komunitas karir di AS mengumumkan perusahaan-perusahaan yang paling ideal dan membahagiakan untuk bekerja di AS tahun 2012. Perusahaan paling ideal adalah jaringan Hotel Hilton.

CareerBliss.com menyatakan, daftar perusahaan ini didapat dari 100 ribu karyawan yang berhasil disurvei. Ada 50 perusahaan yang masuk hitungan paling ideal untuk tempat bekerja para karyawan di AS.

Adapun peringkat 10 besarnya adalah:



1.Hotel Hilton

2.Fluor (perusahaan konstruksi)

3.Johnson & Johnson (kosmetik dan kesehatan)

4.Nordstrom (dept.store)

5.BASF (perusahaan kimia)

6.Centex (konstruksi

7.Angkatan Udara AS

8.Fidelity Investments (keuangan)

9.Ericsson (telekomunikasi)

10.Chevron (migas)


Matt Miller dari CareerBliss mengatakan menarik melihat perubahan yang terjadi. Karena di 2010 Google merupakan peringkat pertama, namun saat ini tidak termasuk dalam daftar 50 besar.

"Google menghadapi kompetisi ketat karena kompetitornya juga menawarkan banyak kebahagiaan untuk para karyawannya," jelas Miller dikutip dari CarrerBliss, Sabtu (17/12/2011).

Friday, December 16, 2011

Situs Social Media Kian Tertekan di India, Imbas Represifnya Kebijakan Pemerintah

Kamis, 15 Desember 2011 16:52 WIB
(Vibiznews – Business) – Perkembangan situs social media pada saat ini kian mengalami pertumbuhan yang pesat. Fungsi awal dari situs social media sebagai ajang bersosialisasi rupanya telah semakin luas ruang lingkupnya. Situs social media kini bahkan cukup ampuh sebagai ajang promosi sebuah produk sampai dengan adanya perluasan informasi mengenai kegiatan-kegiatan sosial. Peran pemerintah dalam mengontrol social media di setiap negara berbeda-beda. Bagi mayoritas di negara-negara Asia, peran social media dinilai perlu untuk diawasi agar tidak melanggar norma-norma sosial. Hal tersebut dilakukan oleh India melalui Kementrian Komunikasi yang cukup ketat dalam mengontrol teknologi internet termasuk situs-situs social media. Bagi Kementrian India, dunia internet memiliki resiko untuk memunculkan gesekan-gesekan yang berpotensi menimbulkan konflik.

Pemerintah India rupanya tidak mau mengambil resiko terhadap aksi-aksi kekerasan yang sering terjadi terkait kasus isu terorisme dan agama. Oleh karena itu, pada hari ini Kementerian Komunikasi India memanggil sejumlah perwakilan dari social media, bloger sampai dengan praktisi teknologi internet untuk membahas pengaturan pengetatan aturan mengenai hal ini.

Pemberantasan Korupsi Via Social Media

Ditengah pertemuan tersebut hadir Perdana Menteri India, Manmohan Singh yang juga menyatakan keprihatinannya terhadap semakin maraknya kasus korupsi di India. Ia berharap besarnya jumlah penggunaan situs sosial media di India dapat menghimpun gerakan sosialism anti korupsi. Di India, jumlah pemilik akun Facebook tercatat sebesar 38 juta orang. Berdasarkan laporan Corruption Perceptions Index, India menempati peringkat ketiga sebagai negara terkorup dibawah Liberia dan Kolombia. Kapil Sibal, Menteri Komunikasi dan Informasi India menambahkan, pemerintah India tidak menutup kemungkinan akan mengeluarkan kebijakan ketat terhadap dunia internet di India.

Sejak 5 September yang lalu, pemerintah India telah melakukan 6 kali pertemuan dengan wakil-wakil dari situs social media dan search engine seperti Facebook, Google, Twitter dan Yahoo! Inc. Sepanjang pertemuan tersebut, pemerintah India menginginkan adanya blok akses terhadap konten-konten yang dapat memiliki resiko di bidang sosial dan keagamaan. Di masa yang akan datang, pemerintah India khawatir isu-isu yang berkembang di social media akan mendatangkan ketidakstabilan politik dan keamanan. Jumlah pengguna Facebook di India saat ini mencapai 38 juta orang atau nomor tiga setelah Amerika Serikat yang mencapai 156 juta orang dan Indonesia sebanyak 40,8 juta orang.

Sibal juga menegaskan, dalam menyikapi perkembangan dunia internet di India, pemerintah memiliki wewenang untuk melanjutkan kebijakan UU Teknologi dan Informasi yang dirilis tahun 2008 yang berisi kewenangan pemerintah untuk melarang dan memblok baik konten maupun keberlangsungan sebuah situs.

Dengan melihat kondisi diatas, kita dapat melihat bahwa negara-negara besar di Asia telah represif terhadap perkembangan dunia internet di negaranya. Sebelum India, China jauh-jauh hari telah melarang operasi Facebook dan situs-situs social media lainnya. China juga memblok konten-konten berisi pornografi, judi dan kritik politik.

Wednesday, December 14, 2011

Apresiasi Yen Buka Peluang Merger dan Akuisisi oleh Perusahaan Jepang; Sebuah Berkah Tersembunyi

Rabu, 14 Desember 2011 14:36 WIB
(Vibiznews – Business) – Menguatnya nilai tukar yen telah menjadi argumen yang penting mengenai kemungkinan terkikisnya keuntungan dari perusahaan-perusahaan Jepang, terutama yang berasal dari sector eksportir (14/12). Akan tetapi di lain pihak menguatnya mata uang Jepang memberikan berkah bagi perusahaan-perusahaan yang berniat untuk melakukan ekspansi ke Negara-negara lain.

Didorong oleh kenaikan yen dan antusiasme yang besar di antara perusahaan-perusahan besar Jepang untuk mencari pasar di luar Jepang yang sudah jenuh, perusahaan-perusahaan Jepang melejit dan melampaui China hingga saat ini menempati posisi ketiga terbesar di dunia, di bawah AS dan Inggris, sebagai Negara dengan akuisisi terbesar di dunia.

Sementara rival-rival di luar negeri, terutama di Eropa, terbebani dengan krisis, perusahaan-perusahaan Jepang yang bergelimang uang mulai mencari kesempatan investasi di luar negeri. Para makelar yang berhasil menjembatani akuisisi perusahaan luar negeri oleh perusahaan-perusahaan Jepang sepanjang tahun 2011 ini menyatakan bahwa aksi perusahaan-perusahaan tersebut justru akan makin agresif di tahun 2012 mendatang. Kawasan utama yang menjadi target akuisisi perusahaan-perusahaan Jepang adalah Eropa yang sedang butuh dana segar karena diterpa krisis.

Menurut penyedia data Dealogic, nilai merger dan akuisisi yang telah dilakukan perusahaan-perusahaan Jepang sepanjang tahun 2011 ini mencapai angka 79.7 miliar dolar, dipimpin oleh aksi akuisisi yang dilakukan Takeda Pharmaceutical terhadap pesaing dari Swiss Nycomed senilai 14 miliar dolar.

Angka akuisisi yang agresif ini menempatkan Jepang yang tahun 2010 lalu berada di peringkat ke-10 di antara Negara-negara paling agresif melakukan akuisisi, di tahun 2011 ini melompat ke posisi ke-3. Nilai akuisisi dan merger di tahun 2011 ini sudah dua kali lipat lebih besar dibandingkan nilai di tahun 2010 lalu, yang hanya sebesar 34.3 miliar dolar.

Apresiasi Yen, Sebuah Berkah di Tengah Badai

Menguatnya nilai tukar yen yang memporakporandakan eksportir Jepang, ternyata merupakan berkah tersendiri bagi proses merger dan akuisisi oleh perusahaan-perusahaan Jepang.

Lima tahun lalu Wakil Presiden Eksekutif JS Group, salah satu perusahaan produsen peralatan konstruksi, Takashi Tsutui, berencana membeli perusahaan konstruksi Italia Permasteelisa, akan tetapi mengurungkan niat karena harga saat itu sebesar 800 miliar euro (1.06 miliar dolar jika dinilai dengan kurs saat itu).

Akan tetapi tahun 2010 lalu Permasteelisa kembali ditawarkan ke pasar. JS Group berhasil mengakuisisi perusahaan tersebut hanya dengan nilai 575 miliar euro. Yen yang telah menguat sebesar 35% terhadap euro sejak lima tahun lalu merupakan salah satu faktor yang mendorong keberhasilan akuisisi tersebut. Harga perusahaan ini dalam yen menjadi jauh lebih murah dibandingkan 5 tahun lalu.

Lihainya perusahaan-perusahaan Jepang dalam menyukseskan proses merger dan akuisisi di tahun ini bukan hanya didorong oleh menguatnya nilai tukar yen, akan tetapi juga didorong kondisi keuangan perusahaan-perusahaan Jepang yang sangat solid.

Sementara itu pengalaman yang makin banyak dalam langkah merger dan akuisisi yang dilakukan oleh para pemain Jepang juga menjadi factor penting yang ikut menentukan. Pengambilan keputusan yang makin efisien di antara para eksekutif perusahaan-perusahaan Jepang juga turut mengambil peranan penting.

Satoshi Kojima, managing director DC Advisory Partners yang merupakan veteran 17 tahun dalam merger dan akuisisi menyatakan bahwa saat ini merupakan awal dari era baru persekutuan perusahaan Jepang dan Eropa. Kojima merupakan salah satu orang di belakang layar dalam akuisisi VTI Technologies yang berbasis di Finlandia oleh Murata Manufacturing tahun ini. Akuisisi ini mencapai nilai sebesar 261 juta dolar.

Tuesday, December 13, 2011

Eropa Di Ambang Kehancuran; ‘Obat’ dari Pertemuan Eropa Kurang Paten

Senin, 12 Desember 2011 11:30 WIB
(Vibiznews – Business) – Sepulangnya para petinggi Eropa dari rapat akbar untuk membahas nasib kongsi Negara-negara tersebut, pasar diliputi kebahagiaan luar biasa (12/12). Para petinggi Eropa, dalam usahanya untuk mempertahankan keutuhan persatuan yang telah berusia 12 tahun ini, menyatakan komitmen untuk meningkatkan kapasitas dana talangan yang akan digunakan sebagai bala bantuan bagi Negara-negara yang tertimpa masalah krisis utang.

Kesepakatan yang telah dicapai antara Negara-negara Uni Eropa untuk meningkatkan integrasi ekonomi dan fiskal (khusus fiskal minus Inggris), juga merupakan langkah penting dan berada di jalur yang benar, Olivier Blanchard selaku chief economist IMF menyatakan hal tersebut. Meskipun demikian ia menegaskan bahwa langkah ini bukan merupakan solusi yang komplit untuk menyelesaikan tuntas krisis utang Eropa.

Para petinggi Eropa setuju untuk menciptakan kesepakatan baru untuk integrasi yang lebih kuat di antara Negara-negara Uni Eropa. Inggris sebagai Negara dengan ekonomi terbesar ketiga di Eropa menolak untuk ikut menandatangani kesepakatan integrasi dari sisi fiskal.

Para petinggi Eropa juga setuju untuk menyediakan dana senilai 200 miliar euro (270 miliar dolar) dalam bentuk pinjaman bilateral yang akan dikelola melalui IMF. Dana ini akan digunakan untuk meningkatkan kapasitas dana pinjaman untuk Negara-negara yang membutuhkan. Dana ini terdiri dari 150 miliar euro yang berasal dari Negara-negara kawasan euro, dan 50 miliar dolar lainnya berasal dari Negara anggota Uni Eropa yang tidak termasuk ke dalam kawasan euro.

Menurut Olivier Blanchard langkah Uni Eropa menyediakan dana tersebut akan mempermudah kerja IMF dalam mencari bantuan pendanaan dari Negara-negara lain di luar persekutuan Uni Eropa. Dengan adanya komitmen di antara Uni Eropa sendiri, maka IMF akan dapat menyatakan bahwa Uni Eropa telah menunjukkan komitmen, saat ini adalah giliran Negara-negara lain.

Sebelumnya Negara-negara di luar Uni Eropa semisal China menyatakan keengganan untuk memberikan dana bantuan karena menurut China Uni Eropa sendiri tidak berkomitmen untuk memberikan bantuan dana pada saudara-saudaranya yang bermasalah. Tidak kurang dari Presiden Perancis Nicholas Sarkozy telah melakukan lawatan ke China dalam rangka meminta bantuan pendanaan.

Jalan Panjang Masih Menanti Eropa

Meskipun Olivier Blanchard tidak menyatakan langkah-langkah apa yang seharusnya dilakukan Uni Eropa untuk menyelesaikan krisis utangnya, akan tetapi dapat dipahami mengapa Blanchard menyatakan bahwa solusi yang dicapai minggu lalu, seberapa pun bergunanya, masih jauh dari cukup.

Saat ini utang pemerintah yang masih outstanding untuk Italia, Spanyol, Belgia, Yunani, Portugal dan Irlandia mencapai angka fantastis 3.7 triliun euro. Utang pemerintah terbesar dipegang oleh Italia, dengan nilai mencapai 1.963 triliun ruto. Sementara Yunani yang sudah nyaris kolaps hanya memegang utang outstanding senilai 339 miliar euro.

Angka tersebut saja sudah cukup mengerikan, dan memperlihatkan betapa tidak mencukupinya dana talangan yang sudah berhasil dikumpulkan, dan akan dikumpulkan, dibandingkan besaran utang yang ada saat ini.

Hal tersebut makin diperparah dengan figur pengeluaran yang harus terjadi untuk periode 2012-2013. Di antara Negara-negara dengan ekonomi terburuk di atas, kebutuhan pemerintah keenam Negara tersebut di tahun 2012-13 mencapai angka 1.225 triliun euro.

Kondisi ini mungkin akan dapat memberikan sedikit gambaran mengenai seberapa parah kondisi krisis utang Eropa. Dengan demikian tidak salah sepertinya jika kita memprediksi bahwa krisis utang Eropa tidak akan berhasil diatasi dalam waktu dekat.