(Vibiznews – Business) – Sepulangnya para petinggi Eropa dari rapat akbar untuk membahas nasib kongsi Negara-negara tersebut, pasar diliputi kebahagiaan luar biasa (12/12). Para petinggi Eropa, dalam usahanya untuk mempertahankan keutuhan persatuan yang telah berusia 12 tahun ini, menyatakan komitmen untuk meningkatkan kapasitas dana talangan yang akan digunakan sebagai bala bantuan bagi Negara-negara yang tertimpa masalah krisis utang.
Kesepakatan yang telah dicapai antara Negara-negara Uni Eropa untuk meningkatkan integrasi ekonomi dan fiskal (khusus fiskal minus Inggris), juga merupakan langkah penting dan berada di jalur yang benar, Olivier Blanchard selaku chief economist IMF menyatakan hal tersebut. Meskipun demikian ia menegaskan bahwa langkah ini bukan merupakan solusi yang komplit untuk menyelesaikan tuntas krisis utang Eropa.
Para petinggi Eropa setuju untuk menciptakan kesepakatan baru untuk integrasi yang lebih kuat di antara Negara-negara Uni Eropa. Inggris sebagai Negara dengan ekonomi terbesar ketiga di Eropa menolak untuk ikut menandatangani kesepakatan integrasi dari sisi fiskal.
Menurut Olivier Blanchard langkah Uni Eropa menyediakan dana tersebut akan mempermudah kerja IMF dalam mencari bantuan pendanaan dari Negara-negara lain di luar persekutuan Uni Eropa. Dengan adanya komitmen di antara Uni Eropa sendiri, maka IMF akan dapat menyatakan bahwa Uni Eropa telah menunjukkan komitmen, saat ini adalah giliran Negara-negara lain.
Sebelumnya Negara-negara di luar Uni Eropa semisal China menyatakan keengganan untuk memberikan dana bantuan karena menurut China Uni Eropa sendiri tidak berkomitmen untuk memberikan bantuan dana pada saudara-saudaranya yang bermasalah. Tidak kurang dari Presiden Perancis Nicholas Sarkozy telah melakukan lawatan ke China dalam rangka meminta bantuan pendanaan.
Jalan Panjang Masih Menanti Eropa
Saat ini utang pemerintah yang masih outstanding untuk Italia, Spanyol, Belgia, Yunani, Portugal dan Irlandia mencapai angka fantastis 3.7 triliun euro. Utang pemerintah terbesar dipegang oleh Italia, dengan nilai mencapai 1.963 triliun ruto. Sementara Yunani yang sudah nyaris kolaps hanya memegang utang outstanding senilai 339 miliar euro.
Angka tersebut saja sudah cukup mengerikan, dan memperlihatkan betapa tidak mencukupinya dana talangan yang sudah berhasil dikumpulkan, dan akan dikumpulkan, dibandingkan besaran utang yang ada saat ini.
Hal tersebut makin diperparah dengan figur pengeluaran yang harus terjadi untuk periode 2012-2013. Di antara Negara-negara dengan ekonomi terburuk di atas, kebutuhan pemerintah keenam Negara tersebut di tahun 2012-13 mencapai angka 1.225 triliun euro.
Kondisi ini mungkin akan dapat memberikan sedikit gambaran mengenai seberapa parah kondisi krisis utang Eropa. Dengan demikian tidak salah sepertinya jika kita memprediksi bahwa krisis utang Eropa tidak akan berhasil diatasi dalam waktu dekat.