(Vibiznews – Business) – Menguatnya nilai tukar yen telah menjadi argumen yang penting mengenai kemungkinan terkikisnya keuntungan dari perusahaan-perusahaan Jepang, terutama yang berasal dari sector eksportir (14/12). Akan tetapi di lain pihak menguatnya mata uang Jepang memberikan berkah bagi perusahaan-perusahaan yang berniat untuk melakukan ekspansi ke Negara-negara lain.
Sementara rival-rival di luar negeri, terutama di Eropa, terbebani dengan krisis, perusahaan-perusahaan Jepang yang bergelimang uang mulai mencari kesempatan investasi di luar negeri. Para makelar yang berhasil menjembatani akuisisi perusahaan luar negeri oleh perusahaan-perusahaan Jepang sepanjang tahun 2011 ini menyatakan bahwa aksi perusahaan-perusahaan tersebut justru akan makin agresif di tahun 2012 mendatang. Kawasan utama yang menjadi target akuisisi perusahaan-perusahaan Jepang adalah Eropa yang sedang butuh dana segar karena diterpa krisis.
Menurut penyedia data Dealogic, nilai merger dan akuisisi yang telah dilakukan perusahaan-perusahaan Jepang sepanjang tahun 2011 ini mencapai angka 79.7 miliar dolar, dipimpin oleh aksi akuisisi yang dilakukan Takeda Pharmaceutical terhadap pesaing dari Swiss Nycomed senilai 14 miliar dolar.
Angka akuisisi yang agresif ini menempatkan Jepang yang tahun 2010 lalu berada di peringkat ke-10 di antara Negara-negara paling agresif melakukan akuisisi, di tahun 2011 ini melompat ke posisi ke-3. Nilai akuisisi dan merger di tahun 2011 ini sudah dua kali lipat lebih besar dibandingkan nilai di tahun 2010 lalu, yang hanya sebesar 34.3 miliar dolar.
Apresiasi Yen, Sebuah Berkah di Tengah Badai
Menguatnya nilai tukar yen yang memporakporandakan eksportir Jepang, ternyata merupakan berkah tersendiri bagi proses merger dan akuisisi oleh perusahaan-perusahaan Jepang.
Lima tahun lalu Wakil Presiden Eksekutif JS Group, salah satu perusahaan produsen peralatan konstruksi, Takashi Tsutui, berencana membeli perusahaan konstruksi Italia Permasteelisa, akan tetapi mengurungkan niat karena harga saat itu sebesar 800 miliar euro (1.06 miliar dolar jika dinilai dengan kurs saat itu).
Akan tetapi tahun 2010 lalu Permasteelisa kembali ditawarkan ke pasar. JS Group berhasil mengakuisisi perusahaan tersebut hanya dengan nilai 575 miliar euro. Yen yang telah menguat sebesar 35% terhadap euro sejak lima tahun lalu merupakan salah satu faktor yang mendorong keberhasilan akuisisi tersebut. Harga perusahaan ini dalam yen menjadi jauh lebih murah dibandingkan 5 tahun lalu.
Lihainya perusahaan-perusahaan Jepang dalam menyukseskan proses merger dan akuisisi di tahun ini bukan hanya didorong oleh menguatnya nilai tukar yen, akan tetapi juga didorong kondisi keuangan perusahaan-perusahaan Jepang yang sangat solid.
Sementara itu pengalaman yang makin banyak dalam langkah merger dan akuisisi yang dilakukan oleh para pemain Jepang juga menjadi factor penting yang ikut menentukan. Pengambilan keputusan yang makin efisien di antara para eksekutif perusahaan-perusahaan Jepang juga turut mengambil peranan penting.
Satoshi Kojima, managing director DC Advisory Partners yang merupakan veteran 17 tahun dalam merger dan akuisisi menyatakan bahwa saat ini merupakan awal dari era baru persekutuan perusahaan Jepang dan Eropa. Kojima merupakan salah satu orang di belakang layar dalam akuisisi VTI Technologies yang berbasis di Finlandia oleh Murata Manufacturing tahun ini. Akuisisi ini mencapai nilai sebesar 261 juta dolar.