Sunday, September 11, 2011

Orang Terkaya Cina 2011 Dengan Harta Senilai US$11 Miliar

Jumat, 09 September 2011 13:00 WIB

Gejolak keuangan yang mencengkeram dunia hanya memiliki pengaruh kecil pada kekayaan di China, di mana ledakan ekonomi yang sedang berlangsung terus menciptakan miliarder dolar AS baru, majalah Forbes mengatakan Kamis, (09/09).

Rilis daftar tahunan orang terkaya China oleh Forbes mengatakan ekonomi kedua terbesar dunia itu memiliki total 146 miliarder tahun ini, naik 14 persen dari 2010 dan hanya urutan kedua dibandingkan Amerika Serikat.

Meskipun berbagai negara dunia menghadapi masalah, orang-orang kaya Cina sepertinya tidak mengalami krisis.

Perusahaan pembuat daftar ini mengatakan jumlah miliarder sebenarnya lebih banyak lagi. Mereka menghadapi kesulitan mendapatkan kepastian data yang dikumpulkan karena banyak orang menyembunyikan kekayaannya di Cina.

Peningkatan jumlah orang kaya di Cina dipandang mewakili peningkatan kekuatan ekonomi kedua terbesar dunia tersebut.

Seperti yang lain, daftar serupa yang dikeluarkan Rabu oleh laporan Hurun yang berbasis di China yang menerbitkan majalah mewah dan menjalankan sebuah lembaga penelitian, Forbes menobatkan taipan mesin Liang Wengen sebagai orang terkaya negara itu.

"Meskipun pasar saham sedang bergerak turun, kekayaan orang-orang yang paling sukses di China meningkat," ujar Russell Flannery, editor senior Forbes dan kepala biro Shanghai, mengatakan kepada wartawan.

Dia menunjuk sebuah gedung untuk bersenang-senang di dalam negeri, permintaan lebih tinggi untuk barang-barang konsumsi dan pertumbuhan sangat tinggi karena didorong peningkatan kekayaan.

"Tingkat pertumbuhan PDB (produk domestik bruto) yang tinggi memberi sebuah platform besar dan banyak ruang bagi orang untuk menemukan bisnis baru," katanya.

Liang, pendiri perusahaan mesin Sany, menduduki posisi teratas daftar orang terkaya versi Forbes dengan kekayaan 9,3 miliar dolar AS(Rp79.050.000.000.000). Laporan Hurun, memperkirakan kekayaannya mencapai 11 miliar dolar AS(Rp93.500.000.000.000).

Taipan konstruksi itu bergeser ke nomor satu dari ketiga pada tahun lalu, karena ledakan bangunan China menciptakan permintaan untuk crane dan excavator Sany.

Liang Wengen sendiri mendapatkan keuntungan dari penjualan peralatan konstruksi.

Pertumbuhan ekonomi Cina diantaranya memang didorong oleh pembelanjaan untuk proyek prasarana umum seperti jalan, jembatan dan bandara.

Dan perusahaan milik Liang membantu pembangunan tersebut dengan menjual berbagai jenis mesin.

Di tempat kedua dalam daftar Forbes adalah Robin Li, pendiri dari perusahaan mesin pencari internet China, Baidu, dengan kekayaan sebesar 9,2 milliar dolar AS(Rp78.200.000.000.000).

Baidu telah menuai keuntungan dari keluarnya saingan pasar China, Google, setelah raksasa internet AS itu bentrok dengan Beijing atas sensor.

Dua saudara mengambil tempat ketiga dan keempat, Liu Yongxing dari East Hope Group, produsen terbesar pakan ternak China, dan adiknya Liu Yonghao yang perusahaannya New Hope Group menggeluti usaha mulai dari pakan hingga pembiayaan.

Tokoh minuman Zong Qinghou dari pembuat minuman ringan Wahaha jatuh ke posisi kelima tahun ini dari pertama pada 2010.

Total kekayaan dari 400 orang dalam daftar adalah 459 miliar dolar AS tahun ini, naik dari sekitar 423 miliar dolar AS tahun lalu, kata Forbes.

Sedangkan Amerika Serikat saat ini memiliki sekitar 413 miliarder, menurut daftar yang dirilis oleh Forbes pada Maret.

Thursday, September 8, 2011

Dana Sebesar 300 Miliar Dollar Disiapkan Obama untuk Stimulus Ekonomi AS

Kamis, 08 September 2011 17:30 WIB

Semalam, publik AS dikejutkan oleh adanya pernyataan dari Presiden AS, Barrack Obama yang melakukan konfrensi pers secara mendadak yang menyatakan bahwa dalam waktu dekat ini pemerintah akan menyiapkan anggaran sebesar 300 miliar dollar untuk dialokasikan sebagai paket stimulus ekonomi. Pernyataan spontanitas ini cukup memberikan atensi yang besar bagi dunia ekonomi global seiring sebelumnya belum terdengar adanya sikap keseriusan pemerintah AS yang bulan lalu merencanakan adanya sebuah paket stimulus bagi perekonomian AS.

Paska sebulan yang lalu mengeluarkan rencana paket stimulus yang bersamaan dengan kepastian kebijakan batas atas hutang AS, pemerintah AS masih "sembunyi-sembunyi" dalam menyikap kebijakan stimulus yang dinilai masih sulit diprediksi akan dilaksanakan pada tahun ini. Hal lain yang mengejutkan dari pernyataan Obama semalam ialah adanya kebijakan sokongan paket stimulus berupakan adanya pemotongan pajak yang cukup kontradiktif dibandingkan prediksi sebelumnya.

Bulan lalu, setelah Obama menyatakan bahwa pemerintah AS akan kembali meluncurkan paket stimulus lanjutan, para pengamat memprediksi bahwa nantinya disaat kebijakan tersebut diberlakukan, rakyat AS diperkirakan akan meneriman adanya kenaikan volume pajak yang bertujuan untuk menutup lubang defisit anggara dan memicu pendapatan negara ditengah adanya pembatasan jumlah hutang. Mengacu kepada pernyataan Obama semalam, kini banyak kalangan cukup serius dalam menanggapi rencana pemerintah yang akan memberikan potongan pajak.

Pengamat dan analis menilai bahwa pernyataan Obama tersebut sangat berani dan cenderung bersifat spekulatif. Obama dinilai berani dalam menghadapi sebuah resiko yang tidak awam terjadi. Terjadinya pembengkakan defisit anggaran AS kini akan menjadi sebuah "kanker" yang akan cukup lama diderita oleh negara. Prediksi mengenai akan naiknya jumlah pendapatan negara dari kenaikan pajak justru diperkirakan akan memberikan dampak yang sebaliknya bagi perekonomian AS dimana pemerintah AS justru memotong pajak dan berpotensi menurunkan pemasukan negara.

Parlemen Tuntut Penurunan Pengangguran

Esok hari, Obama akan menghadap parlemen AS guna memberikan laporannya mengenai kondisi tenaga kerja AS berikut potensi tingkat pengangguran dalam jangka pendek dan panjang. Pihak parlemen melalui perwakilannya yaitu Mitt Romney mengatakan bahwa sejak awal tahun ini kinerja pemerintah dalam menurunkan tingkat pengangguran belum menunjukan sebuah hasil yang signifikan. Masih tingginya level tingkat pengangguran di posisi 9,1% sampai dengan bulan lalu memberikan pandangan bahwa kondisi tenaga kerja AS masih cukup mengkhawatirkan.

Di pihak Obama, beberapa proposal termasuk rencana peningkatan jumlah latihan kerja dan adanya proyek-proyek infrastruktur dibidang sosial akan diajukan ke pihak parlemen. Peningkatan jumlah latihan kerja bertujuan untuk membina dan meningkatkan mutu angkatan kerja yang masih baru agar dapat diserap secarap cepat oleh lapangan pekerjaan di sektor riil. Sedangkan pada hal kedua, pembangunan proyek di bidang sosial seperti pembangunan sarana pendidikan dan kesehatan memberikan dua manfaat yaitu penyerapan tenaga kerja dan adanya peningkatan penjaminan sosial berikut asuransi bagi rakyat AS.

Tuesday, September 6, 2011

Temasek Kembali Borong Saham CCB Sektor Perbankan Cina Masih Favorit

Selasa, 06 September 2011 22:30 WIB

Holding company asal Singapura, Temasek pada hari ini (6/9) memberikan laporan bahwa pihaknya telah membeli saham dari salah satu bank terbesar di China yaitu China Construction Bank senilai 2,8 miliar dollar. Dalam kesepakatan yang disetujui oleh kedua belah pihak, Temasek akan membeli sebanyak 4,4 miliar lembar saham.

Proses pembelian saham CCB oleh Temasek bulanlah pertama kali setelah tahun lalu holding company ini sempat membeli saham CCB. Namun pada bulan Juli lalu Temasek menjual saham CCB senilai 9,4 miliar hkd dengan harga per lembar saham senilai 6,26 hkd. Penjualan saham tersebut sebagai respon atas prediksi bearishnya saham CCB dalam jangka pendek dan pengaruh negatifnya prospek sektor perbankan seiring dengan spekualsi buble economy dan resiko di sektor kredit. Sepanjang bulan Juni lalu saham CCB tercatat mengalami penurunan sebesar 14%.Namun, pembelian saham yang dilakukan pada saat ini dinilai sebagai investasi jangka panjang. Sektor perbankan China dinilai masih cukup prospektif setelah pemerintah China terus berupaya menekan tingkat inflasi agar dapat memberikan kestabilan bagi perekonomian dalam negeri.

Selain itu, kebijakan pembelian saham CCB disinyalir akibat rekomendasi dari Chief Investment Officer Temasek yang baru yaitu, Tan Chong Lee yang merupakan mantan kepala bidang investasi dari Bank of America wilayah Asia Tenggara. Nama BoA merupakan salah satu pihak yang memiliki saham CCB sejak beberapa tahun terakhir. Sehingga tidak mengherankan jika Tan Chong Lee memiliki pengalaman terhadap investasi di saham CCB. BoA saat ini memiliki 25,6 miliar saham CCB setelah bulan lalu sempat menjual 13,1 miliar saham CCB dan memperoleh keuntungan sebesar 3,3 miliar dollar. Penjualan saham CCB yang dilakukan oleh BoA disebabkan oleh tekanan sektor finansial dalam negeri AS yang membutuhkan dana likuid guna menjaga kondisi internal dalam menghadapi ancaman imbas krisis finansial di Eropa.

Disisi CCB sendiri, penjualan saham yang dilakukan dalam beberapa waktu terakhir memiliki strategi tersendiri dalam menunjang kebijakan peningkatan modal likuid untuk menyalurkan kredit ke sektor riil. China Construction Bank merupakan bank kedua yang memiliki jumlah aset terbesar dunia dengan nilai sebesar 10,7 triliun yuan. Fokus bisnis utama CCB ialah menyalurkan kredit kepada sektor riil yang bergerak di sektor pertanian, manufaktur, transportasi hingga telekomunikasi.

Tahun ini, CCB direncanakan akan merilis pengajuan kredit ke sektor ril senilai 80 miliar yuan. Hal ini sesuai dengan instruksi pemerintah China yang ingin terus memicu performa sektor riil dalam menahan ancaman penurunan performa ekonomi dalam jangka pendek.

Jumlah kepemilikan jumlah saham CCB oleh Temasek Holdings saat ini diperkirakan sebesar 7,03%, dengan total sebanyak 16,9 miliar saham. Sedangkan CCB sendiri melepas 36% kepemilikan saham ke global sejak bulan Maret lalu sebanyak 36%. Investor CCB yang sama-sama di sektor perbankan untuk saat ini ialah BoA, Standard Chartered, DBS Group Holdings, ICICI Bank dan Bank Danamon Indonesia.

Dengan melihat ekspansi yang dilakukan Temasek Holdings, kita dapat mengetahui bahwa sektor perbankan masih menjadi incaran untuk berinvestasi. Apalagi berdasarkan prospek yang dimiliki, bank-bank asal China telah memiliki daya saing dengan bank-bank asal AS ataupun Eropa. Ditengah gejolak krisis kredit yang terjadi Eropa terus menggiring para investor untuk mengalihkan dana ke sektor perbankan China yang masih memiliki prospek yang tinggi.

Monday, September 5, 2011

Bursa Vietnam Dipandang Lebih Sexy Dibandingkan Bursa Indonesia


Senin, 05 September 2011 19:37 WIB

Pertumbuhan bursa saham Indonesia sepanjang tahun 2011 memang sangat mengesankan (05/09). Para investor asing yang giat-giatnya menempatkan uangnya ke dalam portofolio saham dalam negeri mengakibatkan bursa Indonesia menjadi bursa saham dengan kinerja terbaik di Asia Tenggara selama satu tahun belakangan. Akan tetapi saat ini bursa Indonesia sudah dianggap mengalami overheating sehingga para investor mulai melirik bursa negara lain di Asia Tenggara, yaitu Vietnam.

David Roes, CEO Asean Investmen Management memberikan alasan mengepa Vietnam merupakan tempat yang menarik untuk menanamkan uang di bursa saham. Menurutnya bursa saham Vietnam menawarkan tiga kunggulan yaitu nilai, pertumbuhan dan dividen.

Roes berencana meningkatkan exposure-nya terhadap portofolio Vietnam sebesar 30% dari 10% saat ini. Di saat yang bersamaan Roes menurunkan exposure terhadap portofolio di bursa saham Indonesia sebesar 10% karena ia percaya bahwa kondisi bursa saham Indonesia saat ini sudah berada dalam situasi yang overheat setelah selama 12 bulan belakangan IHSG melejit sebesar 24%.

Bursa saham dalam negeri dinilai sudah mencapai nilai optimalnya. Yang tertinggal saat ini hanyalah kemungkinan terjadinya penurunan dari sisi pertumbuhan dan kemungkinan penurunan akibat tidak terpenuhinya ekspektasi keuntungan perusahaan-perusahaan di bursa.

Vietnam dipercaya merupakan investasi yang sangat menarik untuk saat ini. Bursa saham di negara tersebut menawarkan return sebesar 30 hingga 40%.

Inflasi Masih Menjadi Ancaman Bagi Outlook Bullish Bursa Vietnam

Meskipun dari sisi fundamental bursa mengesankan, akan tetapi inflasi masih menjadi ancaman bagi negara ini, kondisi yang sama juga terjadi di berbagai negara Asia yang mencatatkan pertumbuhan sehat selama satu tahun terakhir. Pada bulan Juli lalu inflasi konsumen mengalami percepatan menjadi 22% (y/y). Inflasi di Vietnam ini tercatat merupakan yang tertinggi di kawasan Asia.

Meskipun mengalami inflasi sedemikian tinggi, Roes percaya bahwa Vietnam dapat mengatasi kondisi tersebut. Menurutnya pada paruh pertama tahun 2012 mendatang inflasi tahunan di Vietnam dapat berada di bawah level 10%, mungkin bahkan nyaris mencapai 9%. Menurutnya jika inflasi tersebut dapat tercapai, pertumbuhan indeks saham di Vietnam akan mengalami lonjakan tajam.

Indeks saham Vietnam sendiri saat ini telah turun tajam dari posisi tertinggi sepanjang sejarah yang dicapai pada tahun 2007 lalu, saat ini berada 60% di bawah level tertinggi tersebut. Akan tetapi Roes justru menganggap bahwa kondisi ini merupakan saat ideal untuk melakukan pembelian. Meskipun demikian Roes menyarankan agar pembelian dilakukan dengan berhati-hati dan ditujukan bagi saham-saham yang memiliki kapitalisasi menengah dan kecil.

Vietnam merupakan pasar frontier yang memiliki likuiditas yang lebih kecil dibandingkan dengan pasar yang lebih besar seperti Indonesia. Menurut HSBC turnover harian di Vietnam hanya mencapai 28 juta dolar pada tahun 2010 lalu. Meskipun demikian Roes yakin bahwa jika investor ingin keluar dari pasar tidak akan menjadi masalah. Apabila terjadi kondisi yang tidak diinginkan dan investor ingin keluar masih cukup mudah untuk dilakukan.