| Senin, 05 September 2011 19:37 WIB |
Pertumbuhan bursa saham Indonesia sepanjang tahun 2011 memang sangat mengesankan (05/09). Para investor asing yang giat-giatnya menempatkan uangnya ke dalam portofolio saham dalam negeri mengakibatkan bursa Indonesia menjadi bursa saham dengan kinerja terbaik di Asia Tenggara selama satu tahun belakangan. Akan tetapi saat ini bursa Indonesia sudah dianggap mengalami overheating sehingga para investor mulai melirik bursa negara lain di Asia Tenggara, yaitu Vietnam. Roes berencana meningkatkan exposure-nya terhadap portofolio Vietnam sebesar 30% dari 10% saat ini. Di saat yang bersamaan Roes menurunkan exposure terhadap portofolio di bursa saham Indonesia sebesar 10% karena ia percaya bahwa kondisi bursa saham Indonesia saat ini sudah berada dalam situasi yang overheat setelah selama 12 bulan belakangan IHSG melejit sebesar 24%. Bursa saham dalam negeri dinilai sudah mencapai nilai optimalnya. Yang tertinggal saat ini hanyalah kemungkinan terjadinya penurunan dari sisi pertumbuhan dan kemungkinan penurunan akibat tidak terpenuhinya ekspektasi keuntungan perusahaan-perusahaan di bursa. Vietnam dipercaya merupakan investasi yang sangat menarik untuk saat ini. Bursa saham di negara tersebut menawarkan return sebesar 30 hingga 40%. Inflasi Masih Menjadi Ancaman Bagi Outlook Bullish Bursa Vietnam Meskipun dari sisi fundamental bursa mengesankan, akan tetapi inflasi masih menjadi ancaman bagi negara ini, kondisi yang sama juga terjadi di berbagai negara Asia yang mencatatkan pertumbuhan sehat selama satu tahun terakhir. Pada bulan Juli lalu inflasi konsumen mengalami percepatan menjadi 22% (y/y). Inflasi di Vietnam ini tercatat merupakan yang tertinggi di kawasan Asia. Meskipun mengalami inflasi sedemikian tinggi, Roes percaya bahwa Vietnam dapat mengatasi kondisi tersebut. Menurutnya pada paruh pertama tahun 2012 mendatang inflasi tahunan di Vietnam dapat berada di bawah level 10%, mungkin bahkan nyaris mencapai 9%. Menurutnya jika inflasi tersebut dapat tercapai, pertumbuhan indeks saham di Vietnam akan mengalami lonjakan tajam. Indeks saham Vietnam sendiri saat ini telah turun tajam dari posisi tertinggi sepanjang sejarah yang dicapai pada tahun 2007 lalu, saat ini berada 60% di bawah level tertinggi tersebut. Akan tetapi Roes justru menganggap bahwa kondisi ini merupakan saat ideal untuk melakukan pembelian. Meskipun demikian Roes menyarankan agar pembelian dilakukan dengan berhati-hati dan ditujukan bagi saham-saham yang memiliki kapitalisasi menengah dan kecil. Vietnam merupakan pasar frontier yang memiliki likuiditas yang lebih kecil dibandingkan dengan pasar yang lebih besar seperti Indonesia. Menurut HSBC turnover harian di Vietnam hanya mencapai 28 juta dolar pada tahun 2010 lalu. Meskipun demikian Roes yakin bahwa jika investor ingin keluar dari pasar tidak akan menjadi masalah. Apabila terjadi kondisi yang tidak diinginkan dan investor ingin keluar masih cukup mudah untuk dilakukan. |