Paska pengangkatan Perdana Menteri Jepang yang baru saja dilantik yaitu Yoshihiko Noda, kini publik Jepang dikejutkan dengan penunjukkan Noda terhadap Menteri Keuangan Jepang yang baru. Nama Menteri Keuangan Jepang yang baru tersebut ialah Jun Azumi, pria kelahiran Ishinomaki berumur 49 tahun kini menjadi perbincangan hangat di kalangan media dan pengamat.
Meski baru dilantik sebagai Menteri Keuangan Jepang, publik rupanya cukup yakin terhadap terpilihnya Jun Azumi untuk menjalankan posisi tersebut. Dalam beberapa polling yang dilakukan beberapa media, ekspektasi positif dan harapan terhadap terpilihnya Menteri Keuangan yang baru cukup besar. Meski tidak menutup kondisi bahwa rakyat menginginkan adanya kestabilan politik terutama adanya penurunan tensi pergantian Menteri Keuangan yang terlalu sering terjadi. Sejak tahun 2008 lalu, tercatat telah terjadi 8 kali pergantian posisi Menteri Keuangan di Jepang.
Banyak PR Menanti
Beberapa harapan penting dan utama terhadap calon Menteri Keuangan Jepang yang baru masih tidak terlepas terhadap upaya kelanjutan proses rehabilitasi dan rekonstruksi paska gempa dan tsunami yang terjadi bulan Maret lalu. Apalagi tempat kelahiran Azumi merupakan salah satu wilayah yang terkan imbas dari bencana tersebut sehingga tidak menutup kemungkinan adanya keterikatan batin yang sama dengan para korban. Publik menginginkan adanya sebuah percepatan proses perbaikan sarana dan prasarana di provinsi-provinsi yang terkena dampak gempa dan tsunami. Hal yang paling utama di inginkan oleh publik ialah bagaiman dampak dari kebocoran nuklir di Fukushima dapat berhenti dan proses penyelamatan lingkungan dapat terus dijalankan sehingga korban dan penduduk yang sebelumnya tinggal di daerah tersebut dapat kembali. Bagi publik Jepang, Fukushima merupakan provinsi yang dikenal sebagai salah wilayah penghasil produk-produk pertanian dan perikanan terbesar di Jepang. Perdana Menteri Jepang sebelumnya, Naoto Kan memprediksi bahwa kerugian akibat kebocoran nuklir di Fukushima senilai dengan 6 triliun yen.
Dari segi ekonomi makro, Azumi pun dihadapkan pada sebuah tantangan dan pemberian solusi dari beberapa hal seperti adanya sebuah kebijakan pembendungan penguatan nilai tukar yen terhadap dollar. Menurut Toshiyuki Shiga, ketua dari Asosiasi Industri Manufaktur dan Otomitif Jepang, menyatakan bahwa terus bullish pergerakan yen dinilai akan menjadi sebuah pukulan bagi sektor eksportir Jepang. Secara tren, pelemahan nilai tukar dollar terhadap yen dapat menekan sektor eksportir yang terkenal menjadi tulang punggung ekonomi Jepang. Selain itu, perekonomian Jepang juga dihadapkan pada ancaman imbas penurunan sektor finansial yang terjadi di beberapa negara industri tak terkecuali pada AS.
Dikalangan para ekonom, sosok Azumi dinilai sebagai ekonom pro sektor riil. Sedikit sekali dirinya menyinggung mengenai solusi kebijakan moneter dalam merespon kondisi ekonomi Jepang dan dunia pada saat ini. Hal ini cukup dikhawatirkan oleh pengamat mengingat seorang Menteri Keuangan diharuskan dekat dengan posisi Bank Sentral terutama untuk memberikan rekomendasi bagi kebijakan moneter yang dihasilkan.
Program pertama yang harus ia jalani dalam waktu dekat ialah dengan mendatangi pertemuan G7 pada 7 September mendatang di Marseille, Perancis. Dalam pertemuan tersebut direncanakan akan membahas mengenai program-program penting dalam menghadapi ancaman krisis sektor finansial yang diperoleh dari tertekannya beberapa negara di Eropa akibat penurunan rating kredit.
Sedangkan menurut pandangan beberapa pengamat lainnya Azumi harus memutuskan apakah akan menjual yen kembali setelah intervensi bulan lalu gagal untuk membendung keuntungan yang mengancam pemulihan ekonomi dari bencana Maret. Dia juga akan merencanakan anggaran dan pajak setelah Moody `s Investors Service menurunkan peringkat utang negara bulan lalu akibat kekhawatiran bahwa pemerintah akan gagal untuk mengendalikan utang.
"Dengan Noda sebagai bosnya, menteri keuangan baru mungkin mewarisi komitmen Noda untuk memastikan kesehatan fiskal," ujar Takeshi Minami, kepala ekonom di Tokyo pada Norinchukin Research Institute Co, sebelum pengumuman. "Pertanyaannya adalah bagaimana ia akan meyakinkan anggota parlemen yang sangat menentang" untuk kenaikan pajak untuk mengurangi utang Jepang.
Sebagai catatan, Yen menguat seperti pada pasca-Perang Dunia ke II. Membuat produk-produk Jepang kurang kompetitif di luar negeri dan mengikis keuntungan eksportir luar negeri. Mata uang Jepang menguat menjadi 75,95 terhadap dolar pada 19 Agustus, menguat bahkan setelah pemerintah turun tangan dalam pasar valuta asing pada 4 Agustus untuk pertama kalinya sejak bulan Maret