(Vibiznews - Business) - Dalam 4 hari terahir ini, publik dunia disuguhkan oleh berita hangat dari kerusuhan yang terjadi di beberapa wilayah di Inggris, terutama di London. Berbagai isu dan spekulasi disinyalir menjadi penyebab kerusuhan tersebut mulai dari faktor gap kesenjangan sosial ekonomi, isu ras hingga akibat dari dampak pengetatan pengeluaran negara yang berimbas ke pemotongan dana pensiun. Kerusuhan tersebut telah membuah sebagian wilayah lumpuh dan menderita kerusakan yang parah, tak terkecuali dari segi ekonomi dimana kerusuhan tersebut bersamaan dengan aksi penjarahan toko-toko yang menjual kebutuhan pokok.
Membawa Kerugian yang Besar
Selam 4 hari terakhir, tindakan vandal yang dilakukan oleh para perusuh dan penjarah menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi kondisi ekonomi Inggris yang juga sedang mengalami tekanan ekonomi akibat imbas dari ancaman krisis kredit di Eropa dan AS. Kalangan praktisi di bidang asuransi Inggris memperkirakan bahwa dampak kerusuhan dan penjarahan ini telah mendatangkan kerugian hingga mencapai 162 juta dollar. Beberapa hal yang menjadi catatan kerugian diantaranya ialah hancurnya mobil, rumah dan toko-toko.
Beberapa daerah yang tercatat mengalami kerusakan cukup parah diantaranya ialah Lambeth, Hackney, Lewisham, Tower Hamlets dan Croydon yang dimana keseluruhan wilayah tersebut merupakan wilayah pinggiran kota London. Kerusakan materi tersebut ditambah lagi oleh insiden luka-luka yang dialami oleh perusuh dan pihak polisi. Tercatat selama kerusuhan, jumlah polisi yang mengalami luka-luka sebanyak 44 orang.
Dengan banyaknya bangunan, rumah dan mobil yang hancur, sektor asuransi Inggris harus siap dengan gelombang klaim asuransi yang akan datang. Lima perusahaan asuransi terbesar di Inggris diantaranya ialah Aviva Plc, Allianz SE, Axa SA, RSA Insurance Group PLC dan Zurich Financial Services diperkirakan akan sibuk menangani klaim dari nasabah. Bagi publik Inggris, situasi pengajuan klaim akibat kerusuhan bukan menjadi hal yang asing. Pemerintah Inggris telah mengatur jenis pengajuan klaim ini sejak tahun 1886 yang dimanakan Riot (Damages) Act yang dimana para nasabah memiliki hak kuat untuk pengajuan klaim asuransi secara cepat.
Dalam waktu 14 hari sejak terjadinya kerusuhan, nasabah dapat mengurus pengajuan klaim melalui perusahaan asuransi dengan bekerjasama dengan pihak kepolisian sebagai pihak yang menganalisa fakta kerusakan. Kondisi pengajuan klaim yang cukup besar juga sempat terjadi pada tahun 1985 dimana di Tottenhm dan Brixton sempat juga terjadi kerusuhan dan penjarahan akibat konflik ras.
Peluang semakin banyaknya klaim asuransi diperkirakan akan terjadi menyusul semakin meluasnya kerusuhan yang kini telah merambat ke wilayah Birmingham, Bristol, Liverpool dan Nottingham. Perdana Menteri Inggris, David Cameron sangat menyesalkan terjadinya kerusuhan yang telah menimbulkan kerugian yang sangat besar. Namun ia optimis sedikit demi sedikit tindakan vandal yang terjadi saat ini dapat berkurang. Hari ini, parlemen Inggris akan memanggil pemerintah untuk mendisukusikan solusi tercepat dalam menangani kerusuhan yang semakin meluas dan akan menjawab peluang terlibatnya tentara untuk membantu polisi dalam penanganan kerusuhan.
Managing Director Vibiznews.com, Alfred Pakasi menambahkan bahwa Peraturan Riot (Damages) Act yang telah ada sejak lebih dari seabad yang lalu menunjukkan majunya sektor financial di Inggris yang juga sudah memiliki bank sentral (Bank of England) sejak 300 tahun yang lalu. Kelengkapan peraturan yang menjamin akan konsumen atau user jasa asuransi tentunya memberikan kenyamanan dan kepastian bagi masyarakat yang asetnya menjadi rusak akibat kerusuhan di London dan sekitarnya ini. Suatu regulasi dan kebijakan yang patut dipelajari dan ditiru di negeri kita yang kadang (sebagian) masyarakatnya bertindak anarkis.
Pembelajaran lain adalah akar dari pada kerusuhan tersebut. Memang ada tindakan yang disebut sebagai brutal dari pihak keamanan/polisi yang memicu kemarahan massa, namun akar lebih dalamnya nampaknya masih sekitar ekonomi ketika pemerintah Inggris harus memangkas anggaran yang dirasa tidak pro kepada rakyat kecil. Istilah "It's the economy, stupid" mungkin relevan kali ini buat Inggris. Sesungguhnya tidak mudah untuk mengatasi tekanan resesi ekonomi. Kebijakan ekonomi apapun untuk mengatasinya pasti menimbulkan korban, dan akan selalu ada pro dan kontra. Benar suatu ujian berat bagi pemerintahan PM David Cameron. Semoga ini tidak menimbulkan lagi efek domino.
sumber : www.vibiznews.com