Friday, August 12, 2011

Eropa vs AS: Mana yang Menjadi Ancaman Terbesar Ekonomi Global?

Kamis, 11 Agustus 2011 21:00 WIB
(Vibiznews – Business) – Saat ini dunia sedang menghadapi badai ujian lanjutan dari tenggelamnya ekonomi akibat krisis keuangan yang berawal tahun 2008 lalu. Dua kawasan dengan ekonomi terkuat di dunia menghadapi permasalahan pelik mengenai anggaran dan utang, dan sedang berada di ambang kebangkrutan. Krisis di AS dan Eropa telah menjadi focus perhatian para investor dan berganti-gantian menjadi alasan ambruknya bursa saham global. Tertinggal sebuah pertanyaan penting: Di antara keduanya, mana yang lebih mengancam bagi kondisi ekonomi global?

Selama beberapa hari belakangan AS menjadi focus perhatian seluruh investor dunia. Penurunan rating kredit AS ke level AA+ dari AAA oleh agensi Standard & Poor memicu aksi jual di bursa saham yang mendorong indeks S&P dan Dow Jones kembali ke level terburuk untuk setidaknya lima bulan belakangan.

Meskipun dewarnai dengan kontroversi, pemotongan rating kredit AS oleh S&P terbukti seiring dengan psikologis pasar global. Ketidakpercayaan investor global terhadap ekonomi AS diperparah dengan ketidakpercayaan terhadap kondisi politik di Negara tersebut. “Pertengkaran” antara kubu Republik dan Demokrat yang nyaris tidak mampu mencapai kesepakatan mengenai cara penanganan deficit anggaran dan utang di Negara tersebut sudah sangat melukai kepercayaan investor sebelum pemotongan rating kredit. Pemotongan rating kredit oleh S&P tersebut hanya mengkonvirmasi apa yang sudah dicurigai pasar, bahwa ekonomi AS berada dalam bahaya, dengan pertumbuhan ekonomi yang lambat dan tingginya angka pengangguran.

Pada level makro, ekonomi AS tampak lebih buruk dibandingkan dengan Eropa saat ini. Proyeksi pertumbuhan ekonomi AS pada tahun 2011 turun seiring dengan buruknya pertumbuhan pada semester pertama tahun ini. Sementara itu pertumbuhan ekonomi Eropa masih tampak stabil. IMF sendiri meningkatkan proyeksi pertumbuhan ekonomi kawasan Eropa menjadi 2% untuk tahun 2011 ini pada bulan Juni lalu. Sementara itu salah satu laporan dari HSBC baru-baru ini menyatakan bahwa kondisi ekonomi AS masih lebih baik dari Eropa.

Berikut ini adalah beberapa perbandingan figur ekonomi antara AS dan Eropa. Deficit anggaran pemerintah pusat dan lokal pada tahun 2010 membengkak menjadi 10.6% dari GDP, dengan deficit primer (di luar pembayaran bunga utang dan penyesuaian siklus ekonomi) membengkak ke level 7% dari GDP, terbesar di dunia. Rasio utang AS terhadap GDP mencapai level 93.6%. Sementara itu di Eropa rata-rata deficit hanya sebesar 6% dari GDP, deficit primer sebesar 1.1% dari GDP dan meskipun rasio utang terhadap GDP sama dengan AS, tapi pertumbuhannya tidak secepat AS.

AS Miliki Keunggulan Penting dari Eropa

Meskipun hal-hal di atas mungkin benar, akan tetapi AS memiliki keunggulan besar dibandingkan Eropa untuk saat ini. Ironisnya, reaksi para investor global menanggapi pemotongan rating kredit AS justru perburuan besar-besaran terhadap obligasi pemerintah AS – obligasi yang ratingnya dipotong oleh S&P. dengan kondisi ini biaya pinjaman bagi pemerintah AS akan terus mengalami penurunan dengan turunnya yield obligasi dalam negeri akibat banjir permintaan tersebut. Dengan kondisi ini pemerintah AS memiliki banyak waktu untuk membangun sebuah rencana lain yang solid untuk memerangi deficit dan mengembalikan pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

Hal tersebut, sayangnya, tidak terjadi di Eropa. Yield obligasi untuk Negara-negara terlemah (PIIGS) mengalami peningkatan terus. Hal ini memberikan tekanan bagi pemerintah di Negara-negara tersebut untuk mengimplementasikan kebijakan-kebijakan secepat mungkin, hal yang kemungkinan besar tidak tepat sasaran dan justru berpotensi merugikan dalam jangka panjang.

Minggu lalu ECB menggelontorkan miliar dolar obligasi pemerintah Italia dan Spanyol dalam usaha menekan pertumbuhan yield obligasi di kedua Negara tersebut. Kebijakan ECB ini sangat bertolak belakang dengan kebijakan umum yang biasa dilakukan bank sentral tersebut. Akan tetapi pertanyaannya adalah bagaimana kesinambungan kebijakan ini? Tidak terlalu yakin bahwa ECB akan bersedia terus-menerus mengguyur dana miliaran dolar untuk mengamankan yield obligasi Negara-negara bermasalah tersebut. Bahkan langkah ECB tersebut dianggap angin lalu bagi para investor. Terbukti pada perdagangan tadi malam spread yield obligasi pemerintah Perancis yang merupakan negara ekonomi terbesar kedua di Eropa mengalami peningkatan sebesar 90 bps untuk tenor 10 tahun terhadap Jerman. Kondisi ini menunjukkan bahwa saat ini satu-satunya negara yang masih memperoleh kepercayaan di Eropa adalah Jerman saja.


sumber : www.vibiznews.com