(Vibiznews – Business) – Krisis keuangan yang menimpa kawasan euro makin terasa (23/11). Perbankan di Eropa mulai menurunkan penyaluran kredit ke luar negeri sehingga perusahaan-perusahaan di kawasan Afrika, Australia dan Amerika Latin mulai kehilangan sumber penyedia kredit. Hal ini menimbulkan tekanan yang makin besar bagi ekonomi global yang memang sedang dalam momentum melambat.
Selama beberapa tahun belakangan sebelum tertimpa krisis perbankan Eropa dikenal sebagai penyedia kredit yang cukup murah hati bagi perusahaan-perusahaan di Negara-negara berkembang. Diturunkannya penyaluran kredit ke Negara-negara berkembang mengakibatkan industri dari sector aviasi hingga media dan pertambangan di Negara berkembang mengalami kesulitan dalam mencari sumber pembiayaan.
Bank asal Italia UniCredit dan bank asal Jerman Commerzbank telah memutuskan untuk menurunkan aktivitas penyaluran kredit di luar Negara asal mereka. Di Asia dan Australia beberapa bank Perancis juga mulai menjaga jarak dengan debitur setelah sebelumnya sempat jor-joran ambil bagian dalam penyaluran pinjaman sindikasi bagi beberapa proyek raksasa di Negara-negara tersebut.
Penyebab dari pengetatan penyaluran kredit ini adalah tekanan bagi bank-bank Eropa untuk memperkuat modal sehingga mendorong mereka untuk menurunkan penyaluran kredit. Beberapa bank bahkan menjual asset untuk memperkuat permodalan. Sebenarnya kombinasi tersebut justru akan mengakibatkan melambatnya pertumbuhan ekonomi, baik di dalam negeri (Negara asal bank) dan di luar negeri.
Negara-negara dengan Eksposure Pinjaman Terbesar
Ekonomi yang paling terdampak dengan pengetatan penyaluran kredit ini adalah kawasan Eropa Timur. Di Republik Ceko jumlah penyaluran kredit dari perbankan Eropa mencapai angka 105% dari total GDP Negara tersebut. Hungaria, Rumania dan Polandia juga mencapai angka penyaluran kredit lebih dari 40% GDP.
Sementara itu kawasan lain yang juga memiliki dampak serupa adalah Amerika Latin. Negara yang paling menderita dari ketatnya penyaluran kredit perbankan Eropa di Amerika Latin adalah Chile. Negara ini memiliki tingkat penyaluran kredit sebesar 40% dari GDP, diikuti Meksiko dengan angka penyaluran sebesar 18% GDP dan Brazil sebesar 15% GDP.
Kawasan Asia boleh dibilang tidak terdampak terlalu besar dengan keputusan perbankan Eropa untuk menahan penyaluran kredit tersebut. Di China angka penyaluran kredit hanya mencapai 2%, sementara India hanya mencapai 4%. Negara-negara ASEAN seperti Indonesia, Malaysia dan Thailand juga hanya memiliki angka di bawah 9%.