(Vibiznews - Business) - Telah lebih dari dua bulan aksi gerakan "Occupy Wall Street" telah berlangsung. Gerakan yang dimulai pada tanggal 17 September yang lalu ini terus menunjukan eksistensinya dan semakin meluas dibanyak negara. Bahkan gerakan tersebut telah sukses menjadi pendorong gerakan revolusi di beberapa negara yang sedang krisis seperti di negara-negara Eropa dan juga Timur Tengah. Kesamaan ide dan tujuan yang diusung oleh gerakan ini telah berhasil membius kaum muda untuk melakukan perubahan.
Berawal pada demostransi di Zuccotti Park, New York, para demonstran melakukan aksi tuntutan yang berlandaskan sentimen mengenai persamaan hak, tingginya tingkat pengangguran, korupsi hingga kebijakan bantuan terhadap rakyat miskin di AS. Indikator-indikator pergerakan tersebut terus semakin meluas hingga munculnya adanya antipati terhadap sektor finansial AS yang dinilai telah turut memiliki andil bagi keterpurukan ekonomi AS.
Simbol Perlawanan Generasi Muda
Sejak berlangsung 2 bulan lalu gerakan "Occupy Wall Street" semakin berkembang dari segi isu yang diusung. Kini bukan hanya terfokus kepada penentangan terhadap sektor finansial tapi juga telah merambat ke isu lingkungan hidup, keamanan dunia hingga diskriminasi ras dan agama. Jumlah golongan yang terlibat kini pun semakin bertambah. Selain mahasiswa, beberapa golongan pun ikut membaur dalam aksi
Zuccotti Park yang sebelumnya hanya merupakan daerah untuk melakukan demonstrasi kini pun telah berubah menjadi sebuah kamp bagi para demonstran untuk melakukan aktifitas revolusinya. Ratusan tenda didirikan, ketersediaan logistik telah disediakan hingga fasilitas sanitasi pun secara bersama-sama dibangun untuk menunjang kelancaran aksi demonstrasi yang tidak terbatas dengan waktu.
Berbagai tanggapan pun mulai bermunculan dalam menyikapi pergerakan tersebut. Bagi para pelaku bisnis, gerakan ini dinilai cukup wajar terjadi. Sikap "lembut" yang dilakukan oleh para pebisnis ini diperlihatkan oleh Vikram Pandit (CEO Citigroup) yang menyatakan tidak terlalu mengkhawatirkan gerakan tersebut, bahkan menurutnya sentimen yang diusung cenderung emosional dan tidak memberikan solusi yang efektif. Pernyataan lainnya datang dari John Paulson, Paulson & Co yang menyatakan bahwa pemerintah dihimbau untuk merespon aspirasi dari gerakan ini terutama dalam mengkaji persoalan yang terkait mengenai kebijakan pajak.
Disisi lain, Fed yang merupakan otorita pemegang kebijakan moneter di AS menanggapi hal ini dengan kepala dingin. Melalu Ben Bernanke, Gubernur Fed, sikap persuasif diperlihatkan dari pernyataannya yang menyatakan bahwa demonstrasi tersebut memperlihatkan bahwa imbas krisis ekonomi masih belum selesai. Rakyat masih memperoleh masalah-masalah yang terkait dengan indikator fundamental ekonomi dan pihaknya akan terus bekerja keras untuk terus meningkatkan performa ekonomi.
Pergerakan Global
Di awal bulan Oktober lalu, mulai bermunculan pergerakan serupa yang melanda di banyak negara. Bahkan di beberapa negara, gerakan ini menjadi sebuah gerakan yang "keras" dalam menuntut mundur pemerintah yang dikenal diktator. Didorong oleh semangat "occupy Wall Street", kaum perubahan turut melakukan aksi serupa di banyak negara seperti Inggris, Italia, Yunani, Mesir, Spanyol, Brasil dan hingga Indonesia. Occupy Jakarta merupakan pergerakan yang diusung para demonstran yang mengusung isu anti kapitalisme, persamaan hak kemanusiaan, kemiskinan, lingkungan hidup sampai dengan tingginya tingkat pengangguran.