(Vibiznews - Business) - Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang dan pembahasan yang alot antara pihak pemerintah AS dengan parlemen, akhirnya kedua belah pihak sepakat untuk menentukan batas atas dari tingkat hutang negara. Semalam, kedua belah pihak menyatakan sepakat bahwa batas tingkat hutang negara akan dibatasi hingga level 2,1 triliun dollar. Pembahasan mengenai batas hutang tersebut sepenuhnya dilandasi oleh respon pemerintah dan parlemen dalam menghadapi tekanan dari ancaman semakin besarnya angka defisit

negara yang bersamaan dengan angka inflasi yang masih memiliki peluang untuk meningkat dalam jangka pendek.
Dalam kesepakatan tersebut, pemerintah AS setuju atas masukan yang diajukan oleh parlemen bahwa pemerintah harus mengurangi defisit anggaran yang telah menembus level 2,5 triliun dollar dalam satu dekade terakhir. Durasi kesepakatan batas atas hutang AS memiliki tenggat waktu sampai dengan tahun 2013, dimana setelah itu akan ada pembahasan kembali mengenai tingkat batas atas hutang yang sesuai dengan kondisi perekonomian AS saat itu.
Pasar Merespon Positif
Paska dilangsungkannya kesepakatan tersebut, banyak pihak terutama pasar menyambut positif langkah yang dilakukan oleh pemerintah AS dan parlemen. Pergerakan nilai tukar dollar terhadap yen terpantau mengalami kenaikan 0,2% dan harga minyak kembali merambat naik ke level 97,19 dollar per barel.
Pasar beranggapan bahwa kebijakan penentuan batas hutang negara AS dinilai memberikan sebuah sinyal positif bagi perekonomian AS ditengah kekhawatiran akan adanya tekanan finansial kembali seperti yang terjadi di tahun 2008 lalu. Bayang-bayang penurunan sektor kredit dan pengaruh krisis finansial beberapa negara Eropa cukup memberikan sebuah ekspektasi negatif bagi sektor finansial AS. Dan kondisi tersebut masih belum dihadapi dengan fundamental ekonomi yang mumpuni. Tingginya defisit anggaran dan hutang luar negeri merupakan dua faktor yang dapat berkaitan dengan resiko diatas.
Namun pasar tidak sepenuhnya memberikan sebuah apresiasi penuh dimana imbas dari kebijakan penetapan batas atas hutang dan penurunan bertahan defisit anggaran pastinya akan berdampak kepada sektor-sektor lainnya. Belum perkasanya sektor industri AS paska krisis tahun 2008 menjadikan pemerintah harus memutar otak untuk menutup "lubang" di defisit anggaran. Sektor yang dinilai akan berimbas penuh ialah sektor pajak dimana peningkatan tarif pajak akan menjadi solusi jangka pendek bagi upaya pengurangan defisit anggaran.
Peningkatan tarif pajak dipastikan akan mendatangkan sebuah dilema tersendiri bagi pemerintah. Disisi penerimaan negara pastinya akan sangat bermanfaat meski akan menimbulkan kritik dari rakyat yang sebelumnya sempat disuguhi oleh janji pemerintah yang akan menurunkan pajak guna meningkatkan produktifitas sektor ekonomi.
Disaat yang bersamaan, kekhawatiran lain juga muncul mengenai adanya peluang memotongan anggaran di berbagai bidang terutama yang berkaitang dengan bidang sosial. Pemotongan anggaran diperkiran akan terjadi pada pemotongan anggaran pertahanan sedangkan untuk bidang sosial meliputi keamanan sosial, pensiun veteran, kesehatan dan pendidikan.
Resiko Politik yang Cukup Besar
Bagi kepemimpinan Presiden Obama, kebijakan penetapan batas hutang AS dapat menjadi bumerang bagi karir politiknya jelang persiapan pemilu yang akan diselenggarakan pada tahun 2013 mendatang. Dengan merunut efek-efek yang akan terjadi di atas, pamor politik Obama akan sangat diuji dalam beberapa waktu mendatang. Dampak plus-minus dari kebijakan ini akan sangat direspon secara hati-hati oleh Obama dan partai pendukungnya, Partai Demokrat. Kebijakan di sektor pajak diperkirakan akan menjadi isu yang sangat sensitif meski masyarakat menyambut baik kebijakan batas hutang negara. Kegagalan ataupun kebijakan yang tidak populis akan menjadi sebuah batu sandungan dan dapat dimanfaatkan oleh saingan politiknya.
Managing Director Vibiznews.com, Alfred Pakasi menambahkan bahwa respon positif pasar atas kesepakatan antara kongres dengan pemerintah AS adalah sesuatu yang wajar setelah selama beberapa minggu ketegangan politik meningkat diiringi kekuatiran di pasar modal dan finansial AS dan global. Namun demikian, sesuatu yang nyata telah terbuka di pasar bahwa Amerika adalah negara pengutang (debitur) terbesar di dunia, dengan komposisi hutang terhadap GDP yang hampir 1:1 atau 100%. Memang masih ada sejumlah negara lainnya, kebanyakan dari Eropa, yang memiliki komposisi hutang yang lebih besar lagi, tetapi tetap saja situasi menunjukkan kerawanan untuk negara sekelas Amerika dengan rating kreditnya yang dikenal "triple A" itu.
Dengan demikian, respon positif pasar nampaknya akan bersifat jangka pendek saja dan sementara. Hal yang lebih struktural akan menjadi sorotan utama pasar, seperti indeks industri dan perkembangan tingkat pengangguran. Indeks-indeks tersebut akan dirilis pada minggu ini dan akan menjadi perhatian pasar. Hal lain yang akan menjadi concern pasar selanjutnya adalah kemampuan pemerintah Obama untuk secara bertahap menurunkan tingkat hutang yang menguatirkan ini. Suatu tantangan yang tidak mudah karena level hutang yang ada merupakan kumulatif kebijakan anggaran defisit selama ini yang semakin melejit pada saat krisis 'subprime mortgage' menggoyangkan sendi-sendi industri finansial dan perumahan di Amerika di tahun 2007 sampai 2009 yang lalu. Dampaknya masih terus terasa sekarang, termasuk pada tingkat hutang pemerintah tersebut.