Wednesday, December 7, 2011

China dan Brazil Mulai Rasakan Dampak Krisis Eropa

Rabu, 07 Desember 2011 15:24 WIB
(Vibiznews – Business) – Di tengah kejatuhan bertubi-tubi Negara-negara di kawasan euro, para investor mulai memalingkan wajah kepada Negara-negara berkembang seperti China, Brazil dan bahkan Indonesia (07/12). Pertumbuhan ekonomi yang solid, konsumsi dalam negeri yang massif, dan potensi pasar yang luar biasa telah menjadikan Negara-negara berkembang di Asia dan Amerika Latin ‘sasaran empuk’ bagi para investor Eropa dan AS yang mulai kehilangan tempat untuk menanamkan uangnya di Negara asal.

Ekspor China Melambat; Pertumbuhan Ekonomi Terancam Turun

Tetapi tampaknya kehilangan pasar ekspor yang cukup besar, Eropa dan AS, ekonomi China mulai tampak menunjukkan tanda-tanda kelelahan untuk berlari sendiri. Hari ini wakil menteri perdagangan China Chong Quan menyatakan bahwa pertumbuhan ekspor tahunan di bulan November melambat dibandingkan bulan Oktober sebelumnya. Hal ini mengkorfimasi kekhawatiran pasar bahwa kondisi eksternal yang memburuk telah ikut menyeret Negara ini.

Sektor ekspor China – kunci penting pertumbuhan ekonomi Negara ini – diperkirakan akan makin menderita beberapa bulan mendatang. Kondisi ini didorong oleh memburuknya krisis utang Eropa dan melemahnya konsumsi masyarakat di AS.

Dampak dari turunnya ekspor ini akan turut menyeret melambatnya pertumbuhan ekonomi. Salah satu lembaga ekonomi di China CASS (Chinese Academy of Social Sciences) menyebutkan bahwa pertumbuhan GDP tahun 2012 akan melambat hingga ke level 8.9%. Sementara tahun ini berada di level 9.2%. Pertumbuhan di tahun 2012 tersebut apabila benar-benar terjadi akan menjadi yang paling lambat dalam satu dekade belakangan.

Lembaga ini juga memproyeksikan bahwa investasi fixed asset di China akan turut mengalami perlambatan. Diperkirakan investasi fixed asset akan mengalami pertumbuhan hanya di level 22.8% (y/y) pada tahun 2012, dari estimasi 24.5% tahun ini.

Brazil Mulai Terjangkit Virus Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi

Data terbaru dari Brazil yang rilis hari ini menunjukkan bahwa pada kuartal ketiga lalu ekonomi Brazil mengalami kontraksi. Kontraksi ekonomi di kuartal ketiga ini mengakibatkan diturunkannya estimasi pertumbuhan ekonomi untuk seluruh tahun 2011 ini.

GDP Q3 di brazil mengalami kontraksi sebesar 0.04% (q/q). Kontraksi ini terjadi seiring dengan turunnya penyaluran kredit, tingginya biaya pinjaman dan pemotongan anggaran yang pada akhirnya menurunkan permintaan di dalam negeri. Kontraksi ekonomi ini merupakan yang pertama kalinya sejak kuartal pertama tahun 2009 lalu. Secara tahunan ekonomi mengalami kontraksi sebesar 0.17%.

Para ekonom menyatakan bahwa Brazil ditakdirkan mengalami resesi teknikal. Turunnya permintaan ekspor dari Eropa dan AS mengakibatkan sulitnya ekonomi Brazil bertahan dalam kesinambungan.

Untuk mengatasi memburuknya ekonomi dalam negeri bank sentral Brazil telah menurunkan suku bunga acuan sebanyak tiga kali sejak bulan Agustus lalu. Pemerintah Brazil juga tidak berpangku tangan dan ikut ambil bagian dalam langkah penyelamatan ekonomi. Pemerintah telah menurunkan pajak senilai 2.8 miliar real Brazil (1.6 miliar dolar).