(Vibiznews – Business) – Masyarakat Indonesia boleh sedikit berbangga hati dengan solidnya ekonomi dalam negeri saat ini (04/08). Di bawah pemerintahan Presiden SBY, ekonomi Indonesia kembali mulai menunjukkan tajinya kepada dunia.
Perbaikan infrastruktur tersebut tampaknya mulai membuahkan hasil tercatat bahwa investasi langsung asing mengalami peningkatan sebesar 21.1% menjadi 43.1 triliun rupiah pada kuartal pertama lalu, dibandingkan tahun sebelumnya. BKPM mencatatkan bahwa total investasi di Indonesia mengalami peningkatan sebesar 22.1% sepanjang kuartal kedua lalu.
Pertumbuhan ekonomi yang solid yang dibarengi oleh inflasi yang terkontrol membuat Bank Indonesia mempertahankan suku bunga di level yang cukup rendah. BI diperkirakan akan menahan suku bunga di level 6.75% hingga akhir kuartal ketiga tahun ini.
Seiring dengan suku bunga yang rendah tersebut kredit perbankan mengalami kenaikan yang cukup baik tahun ini. Kucuran kredit perbankan diharapkan akan dapat melampaui estimasi dari bank sentral. Pada pengumuman penetapan suku bunga acuan pada tanggal 9 Agustus mendatang diperkirakan bank Indonesia masih akan menahan suku bunga. Aksi bank sentral untuk emnahan suku bunga ini ditujukan untuk mendorong pertumbuhan kredit dan aktivitas ekonomi.
Pertumbuhan Ekonomi Tinggi dengan Inflasi Moderat Picu Keyakinan Investor
Tingginya tingkat investasi di Indonesia selain didukung oleh stabilitas politik dan perbaikan infrastruktur juga didorong oleh makroekonomi yang positif. Pada kuartal kedua lalu pertumbuhan ekonomi tahunan diperkirakan mencapai angka 6.5%. Pertumbuhan ekonomi tahun ini diperkirakan akan makin cepat ke kisaran 6.6% dari pertumbuhan sebesar 6.1% pada tahun 2010 lalu.
Ekonomi Indonesia lebih tahan banting terhadap kondisi volatil permintaan global dibandingkan dengan tetangga-tetangganya di Asia. Pasalnya pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih didorong segi konsumsi dan tidak terlalu bergantung dengan ekspor. Sementara itu konsumsi dalam negeri tetap solid di tengah krisis keuangan yang menghancurkan Eropa dan AS.
Sementara itu negara-negara lain di Asia menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang melambat mulai dari Singapura hingga Taiwan. Di waktu yang bersamaan, tingkat inflasi yang tinggi juga makin mengancam bagi negra-negara tersebut. Bank sentral di China, India dan Thailan telah menaikkan suku bunga di negaranya untuk mencegah inflasi yang makin liar.
Inflasi di Indonesia sendiri masih bergerak dengan moderat. Bahkan sepanjang tahun 2011 ini setiap bulan tingkat inflasi tahunan mengalami penurunan. Pemerintah SBY telah menunda pencabutan subsdi BBM dan melakukan impor beras guna menjaga pergerakan harga beras dalam negeri. Tingkat konsumsi di dalam negeri pada bulan Agustus ini diperkirakan akan mengalami kenaikan karena umat Islam di Indonesia memasuki bulan Ramadhan dan lebaran.
Tingkat inflasi tahunan di bulan Juli lalu turun ke level 4.61% dibandingkan 5.54% pada bulan Juni sebelumnya. Target inflasi di Indonesia yang ditetapkan oleh Bank Indonesia untuk tahun ini berada pada kisaran 4-6%.
Para analis meyakini bahwa kondisi ekonomi di Indonesia dapat mengalami decoupling dari kondisi yang terjadi di AS dan Eropa. Kesempatan Indonesia untuk menjadi negara tujuan investasi di tengah lesunya ekonomi Eropa dan Asia saat ini sungguh besar dan seyogyanya harus dapat dimanfaatkan dengan sebaik mungkin.
Sementara itu, Managing Director Vibiznews, Alfred Pakasi berpendapat, sudah banyak yang tahu bahwa Indonesia tinggal selangkah dari peringkat investment grade. Itu telah menjadi salah satu alasan utama mengapa banyak dana asing dari investor global yang masuk ke pasar uang dan pasar modal Indonesia. Sebagian lagi dana bahkan masuk dalam bentuk penanaman modal asing langsung di sektor riil yang memberikan dampak lebih nyata kepada pertumbuhan ekonomi. Gelombang ini, mungkin, belum seberapa. Selain dana besar kelompok hedge fund yang sudah masuk, masih ada gelombang dana lebih besar lagi dengan preferensi penanaman modal yang lebih jangka panjang dan stabil yaitu dari dana pensiun global. Kelompok dana ini umumnya hanya masuk pada investasi di tingkat investment grade ke atas karena karekateristiknya yang lebih konservatif. Itu sebabnya, masih kuat kemungkinannya capital inflow yang lebih besar akan masuk ke pasar dalam negeri.
Bahwa Indonesia akan masuk dalam level investment grade kelihatannya pasti, demikian juga dengan pertambahan arus capital inflow. Permasalahannya adalah bagaimana pemerintah dan pihak swasta lokal dapat memanfaatkan dana besar asing ini? Kekuatan infrastruktur ekonomi di sini memegang peranan kunci dan strategis. Konversi dari dana pasar financial menjadi asset sektor riil sangat mendesak untuk diantisipasikan caranya. Pemerintah harusnya memimpin untuk ini, atau kalau tidak pihak swasta yang kompeten dan kapabel. Ya, tetapi, siapa?
sumber : www.vibiznews.com